Kopilot Ini Sengaja Menjatuhkan Pesawat

Bangkai pesawat Germanwings yang dijatuhkan kopilot. Foto: AFP

Pengawas lalu lintas udara dan pertahanan udara Prancis mencoba menghubungi kokpit berulang kali namun tidak mendapatkan jawaban.

Rekaman suara kokpit (Cockpit Voice Recorder/CVR) merekam suara gedoran keras di pintu serta teriakan kapten yang berusaha mendobrak masuk. Suara itu diiringi bunyi alarm yang memperingatkan pilot untuk segera naik (pull up).

Kopilot Andreas Lubitz tetap diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meski suara napasnya yang teratur terdengar hingga akhir rekaman.

Perekam CVR berhenti sepenuhnya pada pukul saat pesawat menghantam lereng gunung dan hancur berkeping-keping.

Tak ada yang selamat dalam insiden ini. Tragedi ini menewaskan seluruh 150 orang di dalam pesawat, yang terdiri dari 144 penumpang dan 4 kru kabin. Termasuk Patrick Sonderheimer dan kopilot Andreas Lubitz.

Para korban mencakup 72 warga negara Jerman (termasuk 16 siswa sekolah yang sedang dalam perjalanan pulang) dan 51 warga negara Spanyol. Korban lainnya berasal dari berbagai negara seperti Inggris, Australia, Argentina, Amerika Serikat, Jepang, Kolombia, dan Belanda.

Data dari perekam data penerbangan (Flight Data Recorder/FDR) mengungkap temuan mengejutkan bahwa Lubitz diduga sempat mempraktikkan penurunan ketinggian darurat ini pada penerbangan rute sebaliknya (Duesseldorf ke Barcelona) beberapa jam sebelumnya.

Ia berulang kali mengubah pengaturan ketinggian ke 100 kaki saat kapten sedang keluar kokpit, lalu segera mengembalikannya ke pengaturan normal sebelum kapten kembali

Selain itu, penyelidik menemukan bukti bahwa kopilot berusia 27 tahun tersebut sempat dirawat karena depresi pada April 2009 sebelum mendapatkan lisensi pilotnya. Di rumahnya, polisi menemukan obat antidepresan serta surat keterangan sakit dari dokter yang disobek untuk hari kejadian. (*)

Penulis: Djono W. OesmanEditor: Djono W. Oesman