FAKTANASIONAL.NET – Serangan kelompok Houthi Yaman ke wilayah selatan Arab Saudi kembali menguji efektivitas pakta pertahanan bersama yang baru dibentuk Arab Saudi, Pakistan, dan Turki.
Kesepakatan yang kerap dijuluki sebagai “NATO Islam” itu belum menunjukkan respons militer kolektif meski Arab Saudi menjadi sasaran serangan.
Serangan rudal yang berlangsung pada Selasa lalu menyebabkan lebih dari 70 orang terluka. Sejumlah fasilitas minyak dan utilitas di wilayah terdampak juga dilaporkan mengalami kebakaran.
Dikutip dari SINDOnews, Minggu, 13 September 2026, kondisi tersebut menjadi sorotan karena pakta pertahanan Makkah baru saja disepakati oleh ketiga negara.
Kesepakatan tersebut ditandatangani di Makkah pada Agustus 2026. Salah satu ketentuannya menyebut agresi terhadap satu negara anggota akan dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Prinsip itu memiliki kemiripan dengan Pasal 5 NATO yang menempatkan serangan terhadap satu anggota sebagai persoalan bersama aliansi. Karena karakter pertahanan kolektif tersebut, pakta antara Arab Saudi, Pakistan, dan Turki kemudian banyak disebut sebagai “NATO Islam” atau “NATO Muslim”.
Namun, serangan Houthi terhadap Arab Saudi memperlihatkan bahwa mekanisme tersebut belum otomatis diterjemahkan menjadi operasi militer bersama.
