Opini  

Reaksi Riuh Usai Kiai Gontor Banyak Orang Cari Muka dan Ijazah di Depan Prabowo

“Orang enggak punya ijazah cari ijazah.” Ini sindiran kepada mereka yang membeli gelar atau menggunakan jasa joki untuk mendapatkan ijazah. Di zaman ketika ijazah palsu dijual bebas, dan ketika gelar “doktor” atau “profesor” bisa didapat tanpa belajar, ini adalah peringatan serius.

“Orang enggak punya nama cari nama.” Ini sindiran kepada mereka yang mengejar popularitas dengan segala cara. Termasuk membuat konten viral, mencari sensasi, atau membuat isu yang mengguncang publik.

“Orang enggak punya uang cari uang.” Ini sindiran kepada mereka yang menggunakan jabatan untuk mencari kekayaan. Bukan dengan kerja keras. Tapi dengan korupsi, gratifikasi, atau mark-up proyek.

“Orang enggak punya jabatan cari jabatan.” Ini sindiran kepada mereka yang menjilat demi kursi. Tanpa kompetensi. Tanpa integritas.

“Orang enggak punya muka cari muka.” Ini puncak sindiran. Ini adalah kalimat pamungkas yang merangkum semua. Mereka yang tidak punya harga diri akan menjual harga dirinya demi keuntungan sesaat.

MENGAPA KIAI GONTOR SAMPAIKAN DI DEPAN PRABOWO? KARENA INI ADALAH “PERINGATAN DARI ORANG TUA”

Sobat, dalam tradisi pesantren, ada satu adab yang dijaga dengan sangat baik: “menasihati pemimpin”. Bukan dengan caci maki. Bukan dengan demonstrasi. Tapi dengan “santun” dengan “kata-kata bijak”. Dan “kelakar” adalah salah satu cara paling elegan untuk menyampaikan kebenaran tanpa melukai perasaan.

Kyai Hasan memilih kelakar karena ia tahu bahwa jika ia berbicara secara langsung dengan kata-kata keras , mungkin Prabowo akan malu di depan tamu-tamu penting. Tapi dengan kelakar, pesan itu tetap sampai tanpa merusak “hubungan baik”.

Dan sobat. Kyai Hasan sudah berusia lanjut. Ia sudah lama mengabdi di Gontor. Ia sudah banyak melihat pemimpin datang dan pergi. Dan ketika ulama sepuh seperti dia berbicara, itu bukan sekadar kelakar. Itu adalah “bisikan langit” yang dibungkus dalam kata-kata manusia.

SETELAH PERTEMUAN TERBUKA, ADA PERTEMUAN TERTUTUP
INI YANG TIDAK TERKAMERA

Sobat, ada satu hal yang jarang dibahas oleh media. Setelah berbicara di depan publik, Kyai Hasan dan Kyai Akrim kemudian melanjutkan dalam pertemuan yang lebih tertutup, ditemani Ketua Badan Wakaf Gontor, Ustadz Hidayat Nur Wahid.

Di pertemuan tertutup itu, apa yang dibicarakan?

Kita tidak tahu. Tapi sobat. Kita bisa menduga. Di pertemuan tertutup itu, nasihat-nasihat yang lebih keras, kritik-kritik yang lebih tajam, dan peringatan-peringatan yang lebih serius disampaikan dari hati ke hati. Bukan untuk menjatuhkan. Tapi untuk mengingatkan.

Ini adalah adab pesantren. Berani menyampaikan kebenaran di depan publik. Tapi juga tahu cara menyampaikan di ruang tertutup. Keduanya berjalan bersama.

PESAN UNTUK PARA PEMIMPIN DAN PARA PENJILAT

Untuk para pemimpin: Kalau Anda ingin dikenang sebagai “Bapak Bangsa”, maka bersihkanlah istana Anda dari orang-orang yang cari muka. Pilihlah pembantu berdasarkan kompetensi, bukan berdasarkan kedekatan. Dengarkan kritik dengan lapang dada. Dan jangan pernah lupa bahwa kursi yang Anda duduki adalah amanah rakyat, bukan warisan pribadi.

Untuk para penjilat: Berhentilah mencari muka. Karena muka yang Anda cari itu tidak akan membuat Anda bahagia. Jabatan yang Anda raih dengan cara menjilat itu tidak akan bertahan lama. Dan ketika pemimpin yang Anda jilat itu jatuh, maka Anda akan menjadi yang pertama dilempar keluar.

Ada satu nasihat sesepuh yang sangat relevan:

“Sing sregep nggoleki muka, bakal kelangan muka. Sing sregep njaga ati, bakal nemu kamulyan.”

Yang rajin mencari muka, akan kehilangan muka. Yang rajin menjaga hati, akan menemukan kemuliaan.

Eling lan Waspada. Ingat dan waspada.
Karena “cari muka” adalah penyakit yang membuat bangsa ini sulit berberjaya.

Penulis: Ridwan Sank

Sumber: FB @Ridwan Sank

Exit mobile version