AKU tidak tahu, pada bagian mana dari perjalanan ini aku mulai kehilangan diriku sendiri.
Yang kutahu, dahulu aku pernah mencintaimu dengan begitu sederhana.
Tanpa banyak perhitungan, tanpa menyimpan kemungkinan untuk pergi, dan tanpa pernah membayangkan bahwa seseorang yang begitu ingin kujaga justru menjadi alasan mengapa aku harus belajar menyelamatkan diriku sendiri.
Aku pernah menaruh harapan begitu tinggi kepadamu. Bukan karena aku menganggapmu sempurna, melainkan karena aku percaya bahwa segala kekurangan bisa kita hadapi bersama.
Aku tidak pernah menuntutmu menjadi manusia tanpa cela.
Aku hanya ingin dihargai sebagaimana aku berusaha menghargaimu, didengarkan sebagaimana aku berusaha mendengarkanmu, dan dicintai tanpa harus terus-menerus mempertanyakan apakah kehadiranku masih berarti.
Namun, ternyata mencintai dengan sungguh-sungguh tidak selalu membuat seseorang diperlakukan dengan sungguh-sungguh pula.
Ada banyak hal yang akhirnya kupendam sendiri.
Bukan karena aku tidak ingin bercerita, melainkan karena aku lelah menjelaskan luka yang sama kepada seseorang yang seharusnya mengerti mengapa aku terluka.
Aku pernah mencoba bertahan dengan segala cara, meyakinkan diriku bahwa keadaan akan berubah, bahwa kesabaran akan menemukan jawabannya, dan bahwa suatu hari nanti kamu akan memahami betapa seriusnya aku menjaga hubungan ini.
Aku bertahan lebih lama daripada yang seharusnya.
Barangkali, itulah kesalahanku. Aku terlalu sibuk menjaga agar kamu tidak pergi, sampai lupa memastikan bahwa diriku sendiri masih baik-baik saja.
Aku memaafkan banyak hal yang diam-diam menyakitiku.
Aku berusaha memahami keadaanmu, bahkan ketika perasaanku sendiri tidak pernah benar-benar mendapatkan tempat untuk dipahami.
Aku memilih diam ketika ingin mengungkapkan kecewa, tersenyum ketika hatiku sedang tidak baik-baik saja, dan mengatakan tidak apa-apa ketika sebenarnya ada begitu banyak hal yang ingin kutanyakan.
Bukan karena aku tidak punya harga diri.
Aku hanya terlalu mencintaimu sampai terkadang lupa bahwa hatiku juga memiliki batas.
Dan ketika semuanya mulai terasa begitu berat, aku akhirnya mengerti bahwa tidak semua yang diperjuangkan harus dipertahankan.
Ada hal-hal yang, sekeras apa pun kita genggam, justru membuat tangan kita terluka.
Ada seseorang yang, sedekat apa pun kita ingin menjangkaunya, tetap tidak bisa dipaksa untuk memahami apa yang kita rasakan.
Aku tidak menyalahkanmu atas segala kesedihanku. Aku pun tidak ingin menjadikan diriku sebagai manusia paling terluka dalam cerita ini.
Barangkali, kita memang memiliki cara mencintai yang berbeda.
Barangkali, aku menaruh harapan pada sesuatu yang tidak pernah kamu janjikan.
Atau mungkin, kita pernah saling menyayangi, tetapi tidak memiliki kemampuan yang sama untuk menjaga perasaan satu sama lain.
Aku tidak tahu jawaban mana yang paling benar.
Yang kutahu, aku pernah hampir kehilangan diriku sendiri karena terlalu takut kehilanganmu.
Sekarang, aku sedang belajar menerima kenyataan itu, meskipun tidak selalu mudah.
Aku masih manusia biasa. Terkadang, kenangan tentangmu datang tanpa permisi.
Ada malam ketika aku teringat percakapan sederhana yang dahulu membuatku bahagia.
Ada waktu ketika hal-hal kecil tiba-tiba mengingatkanku pada kehadiranmu.
Dan ada saat-saat ketika aku ingin sekali kembali ke masa lalu, bukan untuk mengubah segalanya, melainkan sekadar merasakan sekali lagi bagaimana rasanya mencintai tanpa dihantui ketakutan akan kehilangan.
Tetapi aku tahu, waktu tidak pernah berjalan mundur hanya karena seseorang belum selesai dengan perasaannya.
Maka, perlahan-lahan, aku belajar membiarkan semuanya menjadi kenangan.
Aku belajar bahwa merindukanmu tidak berarti aku harus kembali.
Aku belajar bahwa masih menyayangimu tidak mengharuskanku terus berada di tempat yang membuatku terluka.
Aku juga belajar bahwa melepaskan bukan berarti seluruh perasaan itu tiba-tiba menghilang.
Kadang-kadang, melepaskan justru menjadi keputusan paling menyakitkan yang harus diambil oleh seseorang yang masih memiliki begitu banyak alasan untuk bertahan.
Jika suatu hari kamu mendengar kabarku, mungkin kamu akan menemukan seseorang yang tampak baik-baik saja.
Seseorang yang masih bisa tertawa, bekerja, menjalani hari, dan berbicara tentang banyak hal seolah tidak pernah mengalami apa-apa.
Namun, kamu tidak akan pernah benar-benar tahu berapa banyak hal yang harus kulewati untuk sampai pada keadaan itu.
Kamu tidak melihat malam-malam ketika aku berusaha menenangkan pikiranku sendiri.
Kamu tidak menyaksikan bagaimana aku mencoba menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.
Kamu juga tidak tahu betapa sulitnya meyakinkan diri sendiri bahwa kehilangan seseorang bukan berarti kehilangan seluruh masa depan.
Aku tidak menceritakan semuanya bukan karena ingin terlihat kuat.
Aku hanya tidak ingin menjadikan lukaku sebagai alasan untuk terus-menerus meminta pengertian dari dunia.











