Gus Ipul Ungkap Ragam Persoalan Siswa Sekolah Rakyat

Gus Ipul Ungkap Ragam Persoalan Siswa Sekolah Rakyat/dok.tempo.co

FAKTANASIONAL.NET – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul membeberkan berbagai tantangan sosial pelik, mulai dari ketertinggalan akademik, riwayat korban kekerasan fisik dan seksual, hingga keterpaparan narkoba yang dihadapi sebagian pelajar Sekolah Rakyat saat melakukan peninjauan dan evaluasi di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 4 DKI Jakarta pada Minggu (12/10/2026), sehingga membutuhkan penanganan intensif dan pendekatan holistik sebelum mereka dapat memulai kegiatan belajar secara optimal.

“Ada siswa yang memerlukan rehabilitasi 3-4 bulan terlebih dulu. Karena di antara mereka ada yang juga korban kekerasan, baik itu fisik maupun seksual,” ujar Gus Ipul.

Program Sekolah Rakyat sendiri dirancang khusus untuk menyasar anak-anak dari keluarga prasejahtera yang berada di kategori desil 1 dan desil 2. Begitu dinyatakan diterima sebagai siswa, mereka langsung melalui tahap asesmen kesehatan komprehensif guna mendeteksi masalah fisik, psikologis, maupun kerentanan sosial yang memerlukan intervensi khusus.

Dari prosedur tersebut, pemerintah menemukan sejumlah anak yang belum layak langsung masuk ke kelas reguler. Mereka harus terlebih dahulu menjalani program pemulihan di sentra-sentra rehabilitasi milik Kementerian Sosial.

“Misalnya, ada juga yang terkontaminasi dengan narkoba. Kemudian ada kebiasaan-kebiasaan yang mungkin memerlukan pendekatan rehabilitasi dulu. Mereka tidak bisa langsung mengikuti pembelajaran,” tambahnya.

Gus Ipul tidak memungkiri bahwa porsi siswa yang memerlukan rehabilitasi khusus ini belum mendominasi secara jumlah. Kendati demikian, kondisi tersebut tetap menjadi ujian tersendiri bagi para pengajar, kepala sekolah, wali asrama, serta wali asuh yang membersamai para siswa setiap harinya.

Ia turut menyoroti persoalan pengasuhan, di mana sebagian anak tidak mendapatkan pendampingan langsung dari orang tua akibat situasi tertentu, sehingga berdampak pada minimnya kontrol di lingkungan domestik. Oleh karena itu, pola pendidikan di Sekolah Rakyat memadukan proses kejar ketertinggalan pelajaran dengan pembentukan kebiasaan hidup sehari-hari serta pemulihan mental anak.

Meski menghadapi berbagai dinamika di lapangan, Gus Ipul menilai secara keseluruhan sistem pembelajaran tetap berjalan dengan baik kendati masih menyisakan sejumlah kekurangan. Pemerintah berkomitmen untuk terus merapikan tata kelola, memperketat pengawasan, serta mencukupi kebutuhan sumber daya manusia, baik guru maupun tenaga pendamping asrama.

Hingga saat ini, program Sekolah Rakyat tercatat telah merangkul lebih dari 44.000 anak yang tersebar di 182 titik penjuru tanah air, mencakup jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas (SD, SMP, dan SMA). Dari total lokasi tersebut, sebanyak 93 titik telah beroperasi menggunakan gedung permanen, sementara sisanya masih memanfaatkan fasilitas sementara sembari menunggu proses pembangunan selesai.

Gus Ipul memastikan bahwa evaluasi berkala terus digulirkan untuk menambal berbagai celah kekurangan. Di sisi lain, ia mengapresiasi kerja keras para pendamping yang terbukti berhasil mengantar sejumlah siswa menorehkan prestasi gemilang di bidang sains, teknologi, seni, budaya, hingga kejuaraan olahraga.

Pemerintah berharap kehadiran Sekolah Rakyat tidak sekadar memperluas pintu akses pendidikan bagi kalangan miskin ekstrim, tetapi juga menjadi solusi nyata dalam memutus rantai hambatan sosial yang membebani tumbuh kembang anak. Keberhasilan program ini dinilai tidak cukup diukur dari statistik jumlah murid atau megahnya bangunan fisik, melainkan sejauh mana layanan rehabilitasi, jaminan perlindungan anak, dan kualitas pendampingan terpenuhi secara seimbang. (sak)