FAKTANASIONAL.NET – Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Muhammad Lutfi, menyoroti pengelolaan sumber daya alam Indonesia setelah pendiri Bayan Resources, Low Tuck Kwong [LTW), menghibahkan 101 juta dolar Singapura atau setara Rp1,7 triliun untuk pendidikan dan beasiswa di Singapura.
Lutfi mempertanyakan keadilan sosial ketika kekayaan batu bara Indonesia menghasilkan keuntungan besar, tetapi dana pendidikan dalam jumlah fantastis justru dialirkan ke luar negeri.
“Mengurus batu bara dari perut bumi Kalimantan sampai menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Tetapi baru saja menyumbang 101 juta dolar Singapura atau Rp1,7 triliun untuk beasiswa dan pendidikan di Singapura,” ujar Lutfi, dilansir redaksi pada 22 Oktober.
Sorotan tersebut muncul di tengah persoalan pendidikan nasional. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang dilihat pada Rabu (21/10/2026) mencatat sebanyak 58.623 peserta didik putus sekolah pada tahun ajaran 2025/2026.
Menurut Lutfi, dana sebesar itu berpotensi membantu memperluas akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Sebagai gambaran, Pemerintah DKI Jakarta membutuhkan Rp878 miliar untuk memperbaiki dan membangun 19 gedung sekolah berstandar internasional dengan fasilitas modern.
Lutfi juga menyoroti perjalanan kepemilikan tambang batu bara Bayan Resources. Pada 1992, Low Tuck Kwong melepaskan kewarganegaraan Singapura untuk menjadi warga negara Indonesia (WNI), sehingga dapat menguasai konsesi tambang batu bara.
Namun, pada Agustus 2024, Low menghibahkan 22 persen saham Bayan Resources kepada putrinya, Elaine Low, yang berstatus warga negara Singapura. Lutfi menilai perubahan kepemilikan tersebut berkaitan dengan status Penanaman Modal Asing (PMA).









