JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Perang dagang antara Amerika Serikat dan China kembali memasuki babak baru yang lebih panas.
Presiden Donald Trump mengejutkan dunia dengan kebijakan tarif resiprokal baru sebesar 125% terhadap produk-produk dari China, hanya beberapa jam setelah China lebih dulu menaikkan tarif bea masuk sebesar 84% untuk barang-barang asal AS.
Ketegangan ini bukan hanya memicu kekhawatiran di antara pelaku ekonomi global, tetapi juga berisiko mengganggu stabilitas perdagangan internasional.
Langkah agresif Trump ini dinilai sebagai bagian dari strategi panjang Amerika Serikat dalam menghadapi kebangkitan ekonomi dan geopolitik China.
Selama lebih dari satu dekade, para pemimpin AS telah mencoba merestrukturisasi hubungan ekonomi dan aliansi keamanan demi menyeimbangkan dominasi China di kancah global.
Namun, tarif tinggi yang diberlakukan secara sepihak kepada China justru membuka celah bagi negeri Tirai Bambu itu untuk mengkonsolidasikan pengaruhnya di kawasan Asia dan dunia.
Yang menjadi sorotan tajam adalah keputusan Trump untuk menunda pemberlakuan tarif terhadap negara-negara sekutu seperti Uni Eropa dan Jepang selama 90 hari.









