Bukan Jutaan, Satu Tahun Prabowo Lapangan Kerja Riil Hanya Bertambah 110 Ribu

Presiden Prabowo Subianto/Dok. BPMI Setpres.

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET -Angka tidak berbohong, tetapi cara angka diceritakan bisa sangat menyesatkan.

Pemerintahan Prabowo pernah mengklaim telah menciptakan 3,59 juta lapangan kerja baru. Lalu, ada penambahan lagi sebanyak 1,37 juta. Kesannya, pemerintah sukses karena lapangan kerja bertambah secara signifikan.

Masalahnya, kesan itu hanya benar jika angka dibaca secara parsial dan politik, bukan secara ekonomi.

Presiden Prabowo sendiri dilantik pada 20 Oktober 2024. Disusul kabinetnya sehari kemudian. Pemerintah seolah-olah ingin membuat rakyat terkesan karena berhasil menciptakan 3,59 juta lapangan kerja baru dalam 4 bulan saja.

Padahal, angka tersebut diperoleh dari selisih jumlah penduduk bekerja Februari 2025 dengan Februari 2024, termasuk 8 bulan pemerintahan Jokowi.

Secara statistik memang benar bahwa jumlah penduduk bekerja bertambah. Namun angka tersebut hanya menunjukkan perubahan jumlah orang yang bekerja, bukan perubahan kesempatan kerja yang sebenarnya tersedia.

Dalam ekonomi dengan pertumbuhan angkatan kerja besar seperti Indonesia, angka ini tidak bisa berdiri sendiri, karena setiap tahun jutaan orang baru juga masuk ke pasar kerja.

Pada Februari 2025, ketika pemerintah mengklaim penciptaan 3,59 juta lapangan kerja, jumlah angkatan kerja dalam periode yang sama juga naik 3,67 juta orang.

Artinya, bahkan seluruh tambahan pekerjaan itu pun belum cukup untuk menampung tambahan pencari kerja baru. Secara riil, pasar kerja justru mengalami defisit sekitar 80 ribu pekerjaan. Pekerjaan bertambah, tetapi peluang kerja tidak ikut membesar.

Inilah alasan mengapa klaim penciptaan jutaan lapangan kerja terasa bertolak belakang dengan pengalaman masyarakat yang tetap merasa sulit mencari kerja.

Hal yang sama terjadi pada klaim 1,37 juta lapangan kerja pada November 2025 dibanding Agustus 2025. Dalam periode yang sama, angkatan kerja naik sekitar 1,26 juta orang.

Jika angka ini dibaca secara utuh, tambahan pekerjaan riil hanya sekitar 109 ribu. Dengan kata lain, lebih dari 90 persen pekerjaan baru hanya berfungsi sebagai penampung tambahan angkatan kerja baru, bukan menciptakan ruang kesempatan kerja yang benar-benar baru.

Angka besar yang terdengar impresif itu pada kenyataannya hanya bisa menjaga agar situasi tidak memburuk.

Jika gambaran ini ditarik lebih panjang, perbandingan Agustus 2024 dengan November 2025 justru memperjelas persoalan yang sebenarnya.

Dalam rentang waktu lebih dari satu tahun tersebut, jumlah penduduk bekerja memang bertambah sekitar 3,27 juta orang. Tetapi dalam periode yang sama, jumlah angkatan kerja juga meningkat sekitar 3,16 juta orang.

Hasil akhirnya, lapangan kerja riil yang benar-benar menambah ruang kesempatan kerja hanya sekitar 110 ribu.