Perundingan AS-Iran Buntu, Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak Setelah Sempat Anjlok

Harga minyak mentah Brent dan WTI kembali terkerek naik menyusul keputusan Iran memperketat kembali jalur pelayaran komersial tersebut akibat memanasnya suhu politik dengan AS./(ilustrasi kilang minyak/(pixabay)

FAKTANASIONAL. NET — Tren penurunan harga minyak dunia tidak bertahan lama.

Harga minyak mentah global merangkak naik pada perdagangan Senin (22/6/2026), dipicu oleh kembali melambatnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz serta hasil perundingan perdana antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berakhir buntu.

Melansir data dari Reuters, volatilitas harga komoditas energi ini langsung direspons cepat oleh pasar berjangka:

  • Minyak mentah Brent: Naik 54 sen atau 0,67 persen menjadi US$81,11 per barel. Harga komoditas acuan internasional ini bahkan sempat menyentuh level tertinggi harian di angka US$82,30 per barel pada awal perdagangan.

  • Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS (Kontrak Juli): Menguat tajam US$2,02 atau 2,64 persen menjadi US$78,62 per barel menjelang penutupan kontrak pada hari Senin.

  • Minyak mentah WTI AS (Kontrak Agustus): Ikut terkerek naik sebesar US$1,43 menjadi US$77,28 per barel.

Kenaikan harga ini merupakan dampak langsung dari menyusutnya volume kapal komersial yang berani melintasi Selat Hormuz.

Pihak Teheran secara sepihak mengumumkan pengetatan kembali jalur pelayaran strategis tersebut, sembari menuding Israel dan AS telah mengkhianati kesepakatan damai sementara yang baru saja sepekan disepakati.

“Pasar terlalu cepat mengasumsikan Selat Hormuz akan dibuka kembali. Iran kemungkinan akan terus mencari alasan untuk menghambat arus pelayaran karena itu merupakan satu-satunya alat tawar mereka dalam negosiasi yang sedang berlangsung,” ujar Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic, Senin (22/6/2026).

Kronologi Buntunya Dialog: Ancaman Trump hingga Iran Walk Out

Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz Pascaserangan AS, Harga Minyak Dunia Lonjak Lebih dari US$2

Ketidakpastian pasokan energi global kembali memuncak setelah sesi perundingan tingkat tinggi antara AS dan Iran pada Minggu (21/6) tidak berjalan mulus.

Meskipun Wakil Presiden AS JD Vance sudah turun tangan menemui pejabat tinggi Iran dalam pembicaraan tatap muka pertama, tensi mendadak rusak setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman bahwa Washington siap melanjutkan opsi serangan militer ke Iran.

Merespons gertakan Trump tersebut, delegasi diplomatik Iran memilih mengambil sikap keras dengan melakukan aksi walk out (keluar) dari ruang perundingan.

Di saat yang sama, Iran menuduh Washington gagal memenuhi komitmennya untuk meredam konflik di Lebanon. Situasi di Timur Tengah memang kembali membara setelah serangan militer Israel di Lebanon pada hari Sabtu menewaskan sedikitnya 20 orang—hanya berselang satu hari setelah kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah dinyatakan berlaku.

Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai bahwa rapuhnya stabilitas keamanan di Lebanon saat ini menjadi ancaman paling serius yang dapat merusak masa depan gencatan senjata global sekaligus menahan pembukaan total urat nadi Selat Hormuz.