4 Tantangan Dihadapi Industri Manufaktur, Berikut Penjelasan Kemenperin

FAKTANASIONAL.NET – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan industri manufaktur mengalami berbagai tantangan dari sisi permintaan dan produksi.

Juru Bicara (Jubir) Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief mengatakan keempat tantangan yang dihadapi industri tersebut.

Pertama, dari sisi produksi, industri harus menghadapi kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang dipengaruhi kondisi geopolitik global.

Selain itu, pemadaman listrik di sejumlah wilayah turut mengganggu operasional pabrik yang sepenuhnya bergantung pada pasokan listrik.

“Dari sisi produksi, pertama itu adalah kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah karena dampak geopolitik. Ditambah dengan pemadaman listrik. Ada sebagian industri yang operasionalnya itu sepenuhnya bergantung kepada listrik. Tiba-tiba listriknya padam, mereka berhenti produksi karyawannya dipulangkan,” katanya saat ditemui di kantor Kemenperin, Jakarta Selatan pada Selasa (30/6/2026).

Kedua, tekanan harga gas industri yang tinggi terutama gas hasil regasifikasi LNG yang digunakan sebagai bahan baku maupun sumber energi. Meskipun, ada keputusan penurunan harga LNG hasil regasifikasi dari US$23 menjadi US$13 per MMBTU.

“Penurunan itu adalah angin segar bagi industri, agar industri bisa semakin produktif, meningkatkan utilisasi produksi dan meningkatkan daya saing produknya. Dan tentu kami akan terus memantau implementasinya,” ujarnya.

Ketiga, industri juga melihat tekanan terhadap daya beli masyarakat dan kenaikan harga bahan pokok dan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax. Hal ini dinilai mengurangi daya beli masyarakat untuk membeli produk manufaktur.