Arsip Otentik Pidato 1 Juni Ditemukan, Ketua PA GMNI Arief Hidayat: Debat Lahirnya Pancasila Selesai!

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Menyambut peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP PA GMNI) menyampaikan pernyataan soal ditemukannya dokumen krusial kenegaraan.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat PA GMNI Prof. Dr. Arief Hidayat membagikan kabar berharga mengenai pelurusan sejarah nasional.

Dokumen negara jilid kedua yang memuat draf otentik pembahasan BPUPK dan PPKI saat ini telah berhasil ditemukan dan dipublikasikan secara resmi ke publik.

Arsip negara tersebut memastikan ditemukannya lembaran krusial, yakni halaman pertama (halaman 1) dan halaman terakhir (halaman 29) dari naskah asli pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945, yang sebelumnya sempat dinyatakan hilang atau tidak ditemukan.

Dokumen ini membuktikan secara mutlak bahwa pidato Bung Karno 1 Junilah yang secara sah menjawab pertanyaan Ketua BPUPK, Radjiman Wedyodiningrat, mengenai dasar negara Indonesia merdeka.

“Syukur alhamdulillah pada detik-detik terakhir, akhirnya dokumen halaman pertama dan halaman 29 ditemukan, sehingga menambah keyakinan kita bersama yang tergabung dalam murid ideologi Bung Karno,” kata Arief dalam pertemuan di kantor DPP PA GMNI, di Jakarta.

“Pidato Bung Karno 1 Junilah yang menjawab pertanyaan Ketua BPUPK mengenai dasar negara, yaitu Pancasila. Sehingga saling carut-marut mengenai sebenarnya lahirnya Pancasila kapan itu pun sudah terjawab, dan tidak ada keraguan bahwa disetujui bersama dasar negara Republik Indonesia adalah Pancasila,” urai Guru Besar Ilmu Hukum tersebut.

Dari temuan itu, Arief yang merupakan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu juga menyampaikan pidato refleksi dan otokritik kebangsaan yang mendalam menyambut peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam acara bertajuk “Pernyataan Kebangsaan Indonesia Ambeg Paramarta” yang diselenggarakan di markas DPP PA GMNI, Jalan Cikini Raya Nomor 69, Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2026), ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk berefleksi secara jujur. Khususnya mengenai arah perjalanan negara yang dinilai kerap mengalami pasang surut menjauh dari cita-cita luhur para pendiri bangsa (founding fathers).

Arief menjelaskan bahwa keputusan menyelenggarakan pernyataan kebangsaan ini secara sederhana di kantor Cikini, bukan di hotel mewah, sengaja dipilih sebagai cerminan keprihatinan sekaligus empati terhadap kondisi sosial rakyat bawah yang masih berjuang menggapai keadilan hidup.