BATU-BATU berterbangan di Thaif.
Tubuh Rasulullah Muhammad terluka setelah dakwah yang beliau sampaikan justru dibalas dengan penolakan dan kekerasan.
Dalam keadaan demikian, manusia mungkin akan berpikir tentang pembalasan.
Namun Rasulullah menunjukkan sesuatu yang jauh lebih tinggi daripada sekadar membalas sakit hati: kasih sayang.
Peristiwa Thaif menjadi salah satu episode paling menyentuh dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad.
Ketika datang ke Thaif untuk menyampaikan ajaran Islam, Nabi Muhammad tidak mendapatkan sambutan sebagaimana yang diharapkan.
Dakwah beliau ditolak. Perlakuan terhadap Rasulullah bahkan semakin keras hingga beliau dilempari batu dan mengalami luka.
Secara manusiawi, situasi tersebut sangat berat.
Seorang manusia yang disakiti tentu memiliki rasa kecewa dan terluka.
Terlebih, yang dilakukan Nabi Muhammad bukan untuk kepentingan pribadi.
Beliau datang membawa risalah, mengajak manusia mengenal dan menyembah Allah.
Namun justru ketika penderitaan mencapai titik yang berat, akhlak Rasulullah terlihat semakin agung.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, setelah peristiwa tersebut, Malaikat Jibril datang menemui Nabi Muhammad bersama Malaikat Penjaga Gunung.
Malaikat itu menawarkan kepada Rasulullah sebuah pilihan: penduduk Thaif dapat ditimpakan dua gunung sebagai balasan atas perlakuan mereka.
Bayangkan posisi Nabi Muhammad saat itu.
Beliau baru saja disakiti. Tubuhnya terluka. Dakwahnya ditolak.
Akan tetapi, ketika kesempatan untuk membalas datang, Rasulullah tidak mengambilnya.
Beliau memilih tidak membalas.
Rasulullah justru berharap agar dari keturunan penduduk Thaif kelak lahir orang-orang yang menyembah Allah.
Keputusan tersebut bukan kelemahan.
Justru di situlah terlihat kekuatan akhlak Rasulullah.
Memaafkan ketika seseorang tidak memiliki kemampuan untuk membalas tentu berbeda dengan memaafkan ketika kesempatan untuk membalas terbuka lebar.
Nabi Muhammad berada dalam posisi yang memungkinkan pembalasan, tetapi beliau melihat sesuatu yang lebih jauh daripada kemarahan sesaat.
Beliau melihat kemungkinan masa depan.
Orang yang hari itu menolak belum tentu selamanya menolak. Mereka yang hari ini memusuhi belum tentu selamanya menjadi musuh. Generasi berikutnya mungkin saja memiliki hati yang berbeda.
Inilah salah satu pelajaran besar dari Thaif: jangan biarkan keburukan orang lain menentukan bagaimana kita memperlakukan mereka.










