“Proses pembakaran CNG lebih bersih dan stabil, sehingga menjaga suhu tetap konsisten pada alat pemanas di pabrik aspal. Ini penting untuk menjaga kualitas aspal yang dihasilkan,” ungkap Martin.
Tidak seperti BBM Solar yang butuh tangki penyimpanan dan pengelolaan persediaan, CNG langsung disalurkan oleh pemasok tanpa biaya penyimpanan.
“CNG juga lebih aman karena jika bocor, gasnya akan langsung menguap ke udara. Jadi, beralih ke CNG tidak hanya menghemat biaya, tapi juga lebih ramah lingkungan dan meningkatkan mutu produksi,” imbuh Martin Nababan.
AMP Jabodetabek ditunjuk sebagai pilot project pada tahun 2023 yang menjadi dasar pengembangan lebih lanjut ke unit-unit lainnya. Program ini dikembangkan oleh Tim CNG bersama Unit Produksi, dengan pengawasan dari Departemen Operasi II serta dukungan vendor penyedia burner dan gas.
HKA juga memperkuat aspek digitalisasi dengan penerapan sistem monitoring konsumsi bahan bakar secara real time melalui aplikasi LAMPS (Live Asphalt Mixing Plant System), yang memungkinkan kontrol dan penjadwalan produksi berbasis data.
“Dengan adanya digital monitoring dan pengelolaan energi yang terintegrasi, kami ingin memastikan bahwa efisiensi yang tercapai bisa konsisten, terukur, dan berkelanjutan di seluruh Unit Produksi HKA,” terang Martin Nababan.
Konversi energi ini juga akan mendukung kapasitas produksi aspal berkualitas tinggi untuk berbagai proyek strategis yang tengah digarap HKA.
Salah satu proyek yang telah menggunakan pasokan aspal hasil konversi energi ini adalah pengaspalan area Proving Ground di Bekasi, sebuah fasilitas pengujian kendaraan lengkap yang dirancang dengan standar internasional.
Area ini mencakup berbagai jenis lintasan seperti jalur akselerasi, pengereman, hingga uji tikungan dan kebisingan. Dalam proyek ini, HKA dipercaya memasok aspal berkualitas tinggi dengan permukaan yang presisi dan stabil, didukung oleh sistem produksi berbasis CNG yang efisien dan ramah lingkungan.
“Ke depan, HKA berkomitmen untuk terus melakukan continuous improvement sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam menjawab tantangan industri dan meningkatkan daya saing secara berkelanjutan,” ungkap Martin Nababan.
“Program konversi energi ini juga akan diperluas ke delapan AMP lainnya yang tersebar di enam provinsi, mencakup wilayah Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung,” pungkasnya.[zul]
