Pihak Rusia menyatakan bahwa negosiasi dengan Ukraina tetap rumit dan menunggu respons resmi dari Kiew. Akibatnya, pasar minyak cenderung berhati-hati, dan harga Brent melonjak seiring kekhawatiran penurunan pasokan jangka menengah.
Selain itu, potensi sanksi tambahan dari AS atau Uni Eropa juga menjadi faktor pendorong kenaikan. Jika rezim sanksi diperluas, perusahaan-perusahaan besar di sektor energi Rusia dapat semakin sulit mengekspor minyak, sehingga mengurangi pasokan global.
Investor pun memantau perkembangan situasi dengan cermat, karena setiap pemberitaan tentang negosiasi yang mandek sering kali berimbas pada lonjakan harga dalam waktu singkat.
Selain persoalan geopolitik, gangguan pasokan juga muncul dari Kanada. Kebakaran hutan di provinsi Alberta memaksa sejumlah fasilitas produksi minyak pasir (oil sands) menutup operasionalnya sementara.
Menurut laporan, produksi minyak pasir Kanada terhenti lebih dari 344.000 barel per hari, setara dengan 7% dari total produksi minyak mentah negara tersebut. Penutupan kilang dan fasilitas ekstraksi ini menciptakan kekosongan suplai yang langsung dirasakan pasar.
Kebakaran hutan di Alberta dipicu oleh musim panas yang kian kering dan gelombang panas tinggi. Kondisi ini memaksa perusahaan-perusahaan di sektor energi mengambil langkah antisipatif untuk menjaga keselamatan pekerja.
Meskipun sebagian produksi telah dialihkan dari fasilitas yang terdampak, gangguan tetap signifikan. Akibatnya, harga WTI AS juga terdorong naik, karena Kanada selama ini menjadi salah satu pemasok minyak utama bagi Amerika Serikat. Dalam jangka pendek, permintaan spot dengan pasokan terbatas mendorong harga naik lebih tinggi.[dit]
