Sejauh ini, Selat Hormuz tetap terbuka meski Iran pernah mengancam penutupan. Analis UBS, Giovanni Staunovo, menegaskan arah pergerakan harga ke depan sangat bergantung pada potensi gangguan fisik atau logistik di wilayah Timur Tengah. Sementara itu, Ashley Kelty (Panmure Liberum) memprediksi jika konflik menyentuh infrastruktur ekspor, harga bisa menembus US$ 100 per barel.
Dengan masih tingginya ketidakpastian, pelaku pasar global akan terus memantau keputusan AS terkait keterlibatan langsung di konflik Israel-Iran. Jika negosiasi berkembang, tekanan jual mungkin berlanjut; sebaliknya, ancaman lanjutan membuat premium risiko tetap tinggi.[dit]
