Sudjatmiko menilai runtuhnya bangunan Pesantren Al Khoziny harus menjadi pelajaran nasional untuk memperbaiki tata kelola pembangunan di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada lagi nyawa santri yang menjadi korban akibat kelalaian struktur.
“Bangunan pendidikan adalah ruang kehidupan. Bila runtuh karena salah perhitungan, itu bukan kecelakaan teknis, tapi tragedi kemanusiaan,” ujarnya.
Menurutnya, fenomena pembangunan yang masih mengandalkan “niat baik” tanpa disiplin teknis dan perencanaan ilmiah menunjukkan bahwa keselamatan belum menjadi prioritas dalam budaya konstruksi nasional.
“Selama pembangunan tidak diawali dengan kesadaran teknis yang kuat, risiko tragedi seperti ini akan terus berulang,” katanya menambahkan.
Keselamatan Konstruksi Sebagai Tanggung Jawab Negara
Sudjatmiko menegaskan, setiap kegagalan struktur bangunan harus dipandang sebagai alarm keras terhadap lemahnya sistem pengawasan dan regulasi di sektor konstruksi pendidikan.
“Setiap kesalahan struktur menunjukkan ada yang tidak beres, baik di sisi regulasi, pengawasan, maupun kesadaran masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyerukan agar tragedi Al Khoziny dijadikan momentum perubahan nyata, bukan sekadar headline sesaat.
“Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi ruang tumbuh generasi penerus bangsa. Maka keselamatan mereka adalah tanggung jawab moral negara,” pungkas Sudjatmiko.[zul]










