Meski pembersihan puing berjalan signifikan, tim SAR gabungan menghadapi kendala baru. Sebagian struktur reruntuhan ternyata masih terhubung dengan gedung lama di sisi selatan, yang kondisinya tampak miring dan berisiko roboh.
Karena itu, tim memutuskan tidak mengambil langkah terburu-buru demi menghindari potensi kerusakan tambahan atau runtuhnya bangunan yang masih berdiri. Untuk memastikan keamanan, konsultan ahli dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) dilibatkan guna memberikan rekomendasi teknis.
Hasil analisis ITS menegaskan bahwa sebelum dilakukan pemotongan struktur, perlu dibuat penahan sementara pada bangunan lama agar proses cutting dapat berlangsung aman tanpa menimbulkan keruntuhan baru.
Fokus Operasi SAR dan Upaya Kemanusiaan
Meski dihadapkan pada tantangan teknis, fokus utama tim SAR tetap diarahkan pada pencarian korban dan pembersihan sektor selatan. Prioritas tertinggi ialah memastikan seluruh jenazah dan bagian tubuh telah berhasil dievakuasi dari lokasi bencana sebelum memasuki tahap pemotongan struktur penghubung.
Seluruh personel bekerja dalam sistem giliran 24 jam, dengan dukungan logistik, kesehatan, dan ketahanan fisik dari berbagai pihak. Upaya terpadu ini diharapkan dapat menyelesaikan operasi SAR dalam waktu sesingkat mungkin, tanpa menimbulkan risiko tambahan di lapangan.
“Fokus kami tetap pada pencarian korban dan pembersihan material yang runtuh. Kami berkomitmen menuntaskan operasi ini dengan aman dan cepat,” Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D.[zul]











