“Bencana selalu berulang. Dokumentasi yang baik menjadi modal untuk memperbaiki strategi mitigasi, kesiapsiagaan, dan pembangunan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala ANRI Dr. Mego Pinandito menilai arsip kebencanaan memiliki nilai historis, edukatif, dan moral yang tinggi. Ia mencontohkan peristiwa tsunami Aceh 2004 sebagai tonggak sejarah dunia dalam penanggulangan bencana.
“Tsunami Aceh tidak boleh hanya dikenang sebagai tragedi, tetapi juga sumber pembelajaran global. Arsipnya menjadi warisan kolektif yang sangat berharga,” tutur Mego.
Sebagai bentuk konkret, ANRI telah membentuk Balai Arsip Statis dan Tsunami (BAST) di Nangroe Aceh Darussalam, yang kini menjadi pusat rujukan bagi peneliti, akademisi, hingga komunitas kreatif untuk mempelajari sejarah kebencanaan Indonesia.
“Kami ingin terus memperkuat kerja sama dengan BNPB dalam membangun pusat arsip kebencanaan yang komprehensif, agar masyarakat bisa belajar dari pengalaman masa lalu,” pungkas Mego.[Zul]











