“Solidaritas global itu baik. Tapi yang paling dekat harus diselamatkan dulu. Kalau 3T masih terabaikan, sementara kita sibuk membangun citra empati ke luar negeri, itu bukan solidaritas. Itu sekadar pencitraan,” tegasnya.
Ia juga menyinggung persoalan fundamental yang masih dialami sebagian jemaat di dalam negeri, mulai dari akses rumah ibadah hingga keamanan beribadah.
“Bagaimana kita bicara solidaritas internasional jika di halaman rumah sendiri ada jemaat yang bahkan belum bisa beribadah dengan aman?” tambahnya.
Brian berharap Natal Nasional 2025 menjadi momentum koreksi bersama, bukan hanya panggung gestur moral ke dunia internasional, tetapi juga ajakan untuk menata ulang prioritas solidaritas nasional.
“Natal memanggil kita bertindak nyata dan berpihak pada yang paling rentan. Jangan sampai semangat membantu ke luar negeri membuat kita abai pada luka yang ada di rumah sendiri,” tutupnya.











