Impor Energi Picu Hilangnya Devisa Rp523 Triliun: Strategi Transisi Sebagai Solusi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia/(Instagram)

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyoroti dampak serius dari tingginya impor energi terhadap perekonomian nasional. Menurut Bahlil, tingginya ketergantungan pada impor minyak mentah (crude oil) dan Bahan Bakar Minyak (BBM) telah mengakibatkan hilangnya devisa negara mencapai angka fantastis Rp523 triliun per tahun. Bahlil meyakini bahwa jika angka ini mampu ditekan, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi melonjak signifikan, minimal antara 2 hingga 3 persen, 9 Desember 2025.

Jurang Lebar Kebutuhan dan Produksi

Data tahun 2024 menunjukkan adanya kesenjangan yang besar antara kebutuhan dan produksi minyak dalam negeri. Produksi minyak nasional hanya mencapai 221 juta barel, sementara impor minyak menyentuh 313 juta barel. Selain minyak, Indonesia juga sangat bergantung pada impor Gas LPG untuk kebutuhan domestik. Konsumsi LPG mencapai 8,5 juta ton, sementara produksi dalam negeri hanya 1,3 juta ton, yang berarti Indonesia mengimpor hingga 7,2 juta ton LPG setiap tahun.