Perkara Upah

Perkara Upah/(ilustrasi)

Di sisi lain koin, terdapat pengusaha yang memiliki ekspektasi setinggi langit namun memberikan apresiasi serendah bumi.

Banyak pemilik bisnis yang menuntut loyalitas tanpa batas dan kerja lembur setiap hari, namun memberikan upah yang nyaris menyentuh garis bawah standar hidup layak.

Contoh klasiknya adalah pengusaha yang mengharapkan seorang karyawan menguasai tiga bidang sekaligus—seperti desain, pemasaran, dan layanan pelanggan—namun hanya bersedia membayar gaji satu posisi.

Pola pikir eksploitatif ini justru menjadi bumerang; alih-alih mendapatkan produktivitas, pengusaha justru akan mendapati tingkat turnover karyawan yang sangat tinggi dan moral kerja yang hancur.

Keberhasilan sebuah entitas bisnis sejatinya bukan tentang siapa yang paling banyak mengambil untung, melainkan tentang bagaimana keduanya bisa tumbuh bersama.

Tanpa adanya simbiosis mutualisme, dunia kerja hanya akan menjadi medan pertempuran ego yang melelahkan.
“Kalau saya perhatikan zaman sekarang, ego antara pekerja dan pengusaha sering kali tidak seimbang, padahal kunci sukses itu ada pada keharmonisan keduanya. Saya melihat masih banyak pekerja yang sekadar mencari keuntungan pribadi tanpa mau berkontribusi lebih bagi perusahaan. Sebaliknya, banyak juga pengusaha yang ingin karyawannya bekerja ekstra, tapi upahnya ditekan serendah mungkin. Saya tidak memihak ke mana pun, saya punya jalan sendiri.”[dit]

By: Aditya Faktanasional

Exit mobile version