Cerpen: Sunyi Yang Pulang Bersama Usia

Oleh: Taufan Hidayat

FOTO itu muncul kembali di layar ponsel pada suatu pagi yang terasa biasa. Seorang lelaki tua duduk di kursi kayu dengan secangkir kopi dan sebatang rokok. Teks berbahasa Jawa mengiringinya, tentang nikmat menjadi tua dan getirnya hidup sendirian. Sekilas tampak jenaka, tetapi di baliknya tersimpan kisah yang jauh lebih dalam dan menyesakkan.

Aku melihat foto itu sambil duduk di teras rumah, tempat aku biasa memulai hari. Kursi kayu tua menopang punggungku yang tak lagi tegak. Kopi mengepul pelan, aromanya bercampur dengan bau tanah basah sisa hujan semalam. Dari dalam rumah terdengar suara cucuku berceloteh, memanggil ibunya dengan nada manja. Rumah ini hidup, ramai, dan hangat. Setidaknya begitu yang terlihat.

Tulisan yang menyertai foto itu kubaca pelan. Tentang nikmat menjadi orang tua. Hidup satu atap bersama anak cucu. Pagi dengan rokok dan kopi. Minggu berjalan ke kota sekadar menghibur rasa. Lalu kalimatnya berbelok, bercerita tentang orang tua yang hidup jauh dari anak cucu. Makan sendiri, memasak sendiri, menghadiri layatan dan kondangan sendirian. Tentang kawan sebaya yang jatuh sakit satu per satu. Tentang usia yang menua tanpa teman berbagi.

Aku tersenyum kecil, tetapi dadaku terasa mengeras. Ada bagian dari tulisan itu yang tak sepenuhnya asing. Aku menaruh ponsel, bangkit, lalu membantu anakku menyiapkan sarapan. Cucuku menarik ujung bajuku, meminta ditemani bermain. Aku menurut, meski ada rasa lelah yang tak bisa kusebutkan. Di sela tawa mereka, aku mendapati diriku ingin kembali ke teras, ke kursi kayu, ke sunyi yang singkat namun jujur.

Hari hari berjalan dengan pola yang hampir sama. Pagi ramai, siang lengang, sore kembali riuh. Tetangga sering memuji keberuntunganku. “Bapak enak, tua tapi ramai anak cucu,” kata mereka. Aku mengangguk dan tersenyum, menanggapi dengan kalimat yang diharapkan. Tak seorang pun tahu bahwa di tengah keramaian itu, ada ruang kosong yang tak terisi.

Suatu siang aku menghadiri layatan. Seorang teman lama, dulu sama sama bekerja di pabrik, kini terbaring kaku. Wajahnya tenang, seolah telah berdamai dengan dunia. Di antara pelayat, aku melihat wajah wajah sepuh yang dulu kukenal gagah. Kini mereka berjalan pelan, bertopang pada tongkat atau lengan anaknya. Kami saling sapa, saling bertanya kabar, sambil diam diam menghitung siapa lagi yang akan menyusul.