Perminas Harus Manfaatkan Logam Tanah Jarang Demi Martabat Bangsa di Kancah Dunia

Pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, R. Haidar Alwi/Dokpri.

Perminas seharusnya tidak diperlakukan seperti BUMN tambang biasa yang mengejar keuntungan cepat. Perannya justru sebagai alat negara untuk mengurus bagian pengolahan logam tanah jarang yang selama ini belum ada di Indonesia.

Tugasnya adalah mengelola unsur-unsur bernilai tinggi sebagai aset nasional, membangun kemampuan pengolahan meskipun dimulai dari skala kecil, dan memastikan hasilnya dapat dipakai oleh industri dalam negeri seperti kendaraan listrik, energi terbarukan, dan pertahanan.

Pengalaman hilirisasi nikel memberikan pelajaran penting. Pembangunan smelter memang penting, namun tanpa kelanjutan produk bernilai tinggi, ketergantungan impor tetap tidak terhindarkan.

Dalam konteks logam tanah jarang, tantangannya jauh lebih kompleks dan menuntut peran negara yang lebih tegas. Arah industri ini tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar atau keputusan investor, karena pasar logam tanah jarang memiliki kepentingan geopolitik dan kendali teknologi.

Apabila Perminas diberi mandat strategis yang jelas, ia dapat berfungsi sebagai jembatan antara sumber daya alam, riset, dan industri nasional. Ia berpotensi mengubah limbah menjadi kekuatan, serta potensi menjadi kendali nyata. Namun jika tidak, Perminas hanya akan menjadi nama baru bagi pola lama. Mengelola kekayaan alam tanpa pernah benar-benar berdaulat.

Tanpa keberanian negara untuk menentukan arah dan mengambil risiko awal, Indonesia akan terus berada di pinggiran rantai nilai global. Sebaliknya, dengan arah yang tegas dan instrumen yang tepat, logam tanah jarang dapat menjadi pintu masuk bagi Indonesia menuju negara yang tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga berdaulat dan memegang kendali di masa depan.

*Jakarta, 1 Februari 2026*
*R. HAIDAR ALWI*
*Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB*