Empati di Depan Kamera, Kompromi di Balik Meja

/BPMI Setpres.

Masalahnya bukan sekadar soal Amerika atau satu forum tertentu. Masalahnya adalah pesan politik yang dikirimkan. Dalam politik global, setiap kursi yang diduduki membawa sinyal, setiap keanggotaan adalah pernyataan posisi.

Ketika seorang Presiden menyatakan empati pada korban, tetapi memilih duduk di meja yang sama dengan arsitek yang menindas korban tersebut, maka empati itu suka atau tidak telah kehilangan daya moralnya.

Di titik ini, publik patut curiga bahwa empati telah direduksi menjadi instrumen pencitraan, sementara kompromi dijalankan sebagai praktik kekuasaan.

Kamera mendapatkan pernyataan yang menenangkan nurani publik, sementara ruang tertutup diisi oleh kalkulasi geopolitik.

Keduanya tidak bertabrakan, karena memang tidak dimaksudkan untuk bertemu. Empati bekerja untuk konsumsi domestik, sedangkan kompromi bekerja untuk akses global.

Yang paling berbahaya dari sikap semacam ini bukan hanya kontradiksinya, tetapi normalisasinya. Ketika empati dan kompromi dipisahkan secara rapi, yang satu untuk pidato, yang lain untuk meja perundingan, maka penderitaan Palestina cukup disebut agar terlihat beradab, tetapi tidak cukup diperjuangkan karena mengganggu kepentingan.

Dalam dunia yang penuh diplomasi kepura-puraan, keberpihakan sejati selalu terlihat bukan dari apa yang diucapkan di depan kamera, melainkan dari meja mana yang dipilih ketika pintu ditutup.

Empati itu memang tampak ditujukan untuk Palestina, namun fungsinya justru untuk membuat kompromi dengan Amerika terasa sah dan tidak berdosa.[***]

Oleh: Hamdi Putra, Forum Sipil Bersuara (FORSIBER) dan Mantan Jurnalis Media Arus Utama Nasional

Exit mobile version