Padahal nasionalisme sejati bukan soal membungkam kritik, melainkan memastikan negara tidak diseret menjadi pion dalam permainan kekuatan besar.
Sejarah mengajarkan satu hal sederhana. Kekuasaan yang alergi kritik biasanya sedang menutupi kompromi.
Label “antek asing” dipakai untuk membuktikan fakta bahwa yang benar-benar berbahaya bagi kedaulatan bukanlah suara rakyat, melainkan kebijakan yang menyerahkan ruang gerak negara kepada kekuatan eksternal.
Ketika pemerintah memilih diam atas tekanan geopolitik, tetapi lantang memarahi warganya sendiri, maka jelas siapa yang sedang disasar untuk dibungkam dan siapa yang sebenarnya sedang dilayani.
Maka pertanyaannya kembali, tanpa basa-basi, jika pengkritik disebut antek asing, lalu disebut apa pemimpin yang menjadi kaki tangan Amerika?
Jika kritik adalah “pengkhianatan”, sementara ketergantungan dianggap “nasionalisme”, maka kita sedang menyaksikan pembalikan makna yang berbahaya.
Dalam logika terbalik itu, kedaulatan dikorbankan atas nama stabilitas, dan demokrasi dipersempit atas nama nasionalisme palsu.
Negara yang kuat tidak takut dikritik. Pemimpin yang berdaulat tidak perlu menuding.
Tuduhan “antek asing” bukanlah tanda keberanian, melainkan sinyal bahwa kekuasaan sedang ketakutan dan kehabisan argumen yang substansial, dan itu jauh lebih berbahaya daripada kritik mana pun.[***]
Oleh: Hamdi Putra, Forum Sipil Bersuara (FORSIBER) dan Mantan Jurnalis Media Arus Utama Nasional
