Iran Tutup Selat Hormuz: Krisis 2026 Bisa Lebih Parah dari 2008 dan 2022

Oplus_16908288

Ini adalah gangguan pada arteri distribusi energi dunia.

Dalam skenario ekstrem, harga minyak bisa menembus US$120–150 per barel atau lebih. Lonjakan seperti itu akan langsung menekan negara-negara importir bersih, termasuk Indonesia.

Dampak Khusus bagi Indonesia

Indonesia adalah net importer minyak. Artinya, ketika harga global naik, biaya impor meningkat. Ketergantungan pada BBM impor membuat perekonomian rentan terhadap shock eksternal.

Jika harga minyak menembus US$100–120:

1. Harga BBM non-subsidi hampir pasti naik.

2. Jika BBM subsidi ditahan, beban APBN membengkak.

3. Jika harga dilepas, inflasi melonjak.

4. Rupiah tertekan karena kebutuhan dolar untuk impor energi meningkat.

5. Biaya logistik naik → harga barang naik → daya beli turun.

Krisis 2008 menunjukkan inflasi bisa melonjak tajam.

Krisis 2022 menunjukkan subsidi bisa membengkak drastis.

Skenario Hormuz berpotensi menggabungkan keduanya sekaligus.

Artinya, risiko ekonomi 2026 bisa bersifat kombinatif: tekanan harga seperti 2008 dan tekanan fiskal seperti 2022—terjadi dalam waktu lebih cepat.

Apakah Indonesia Lebih Siap Sekarang?

Ada beberapa faktor yang membuat Indonesia relatif lebih tangguh dibanding 2008:

  • Sistem subsidi lebih terkontrol.
  • Cadangan devisa lebih kuat.
  • Koordinasi fiskal dan moneter lebih solid.
  • Inflasi dasar lebih stabil.

Namun, kerentanan struktural tetap ada:

  • Ketergantungan impor BBM.
  • Konsumsi energi fosil masih dominan.
  • Logistik domestik sensitif terhadap harga solar.

Artinya, kesiapan lebih baik, tetapi risiko tetap signifikan jika gangguan berlangsung lama.

Kesimpulan

Krisis 2008 adalah krisis harga akibat permintaan dan spekulasi.

Krisis 2022 adalah krisis pasokan akibat perang dan sanksi.

Penutupan Selat Hormuz berpotensi menjadi krisis distribusi global yang sistemik.

Jika benar-benar terjadi dalam durasi panjang, dampaknya bisa melampaui 2022 dan menyamai tekanan harga ekstrem seperti 2008—bahkan terjadi lebih cepat karena pasar kini bergerak lebih responsif dan volatil.

Bagi Indonesia, pertanyaannya bukan hanya apakah harga BBM akan naik. Pertanyaan strategisnya adalah:

apakah struktur energi nasional cukup kuat untuk menahan guncangan eksternal yang bersifat sistemik?

Karena ketika arteri energi dunia tersumbat, yang terguncang bukan hanya harga minyak, tetapi stabilitas ekonomi global itu sendiri.[***]

Penulis: Haidar Alwi, Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB.

Exit mobile version