Opini  

Alarm Krisis BBM Mulai Berbunyi

Ilustrasi Panic Buying/Dok. BBC

Antrean panjang kendaraan di SPBU setelah beredarnya isu kelangkaan menunjukkan bahwa masyarakat mulai merespon ketidakpastian pasokan dengan cara yang sama seperti yang terjadi di berbagai negara lain.

Artinya, fenomena ini bukan hanya persoalan lokal, tetapi bagian dari psikologi krisis energi yang sedang berkembang secara global.

Lebih jauh, panic buying di daerah tersebut juga mengirimkan sinyal penting. Narasi bahwa stok BBM aman tidak sepenuhnya dipercaya oleh masyarakat. Jika publik benar-benar yakin pasokan akan tersedia, tidak akan ada dorongan untuk menyerbu SPBU secara bersamaan, bahkan pada malam hari setelah salat tarawih.

Antrean panjang justru menunjukkan adanya jarak antara pernyataan resmi pemerintah dan persepsi masyarakat di lapangan.

Di sinilah alarm krisis sebenarnya mulai berbunyi. Dalam banyak kasus krisis energi di dunia, kelangkaan tidak dimulai dari kosongnya tangki penyimpanan, melainkan dari runtuhnya kepercayaan publik terhadap jaminan bahwa pasokan akan tetap tersedia.

Ketika kepercayaan itu melemah, masyarakat akan bereaksi dengan mempercepat konsumsi, dan perilaku tersebut dapat mempercepat tekanan terhadap sistem distribusi energi.

Karena itu, peristiwa di Takengon dan Bener Meriah, Aceh seharusnya dipandang sebagai peringatan dini. Ketika panic buying mulai muncul di berbagai negara dan juga di beberapa daerah di Indonesia, pesan yang tersirat menjadi jelas. Alarm krisis BBM telah berbunyi—dan yang pertama kali retak bukanlah stoknya, melainkan kepercayaan publik terhadap narasi “stok aman.”

HAMDI PUTRA
Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)

Exit mobile version