-
Moh Jumhur Hidayat (Ketua Umum KSPSI): Menyoroti deindustrialisasi dan menyerukan semangat “MIIGA” (Make Indonesia Industry Great Again). “Dulu kontribusi industri ke PDB sekitar 30 persen, sekarang tinggal 18 persen,” ungkapnya.
-
Ferry Juliantono (Menteri Koperasi): Menekankan akar pemikiran Prabowonomics pada tokoh ekonomi Soemitro Djojohadikusumo. “Koperasi Desa Merah Putih diharapkan menjadi jalan agar kehidupan warga lebih baik,” jelasnya.
-
Mukhamad Misbakhun (Ketua Komisi XI DPR): Menekankan konsistensi Presiden merujuk Pasal 33 UUD 1945.
“Prabowo memikirkan piring nasi rakyatnya melalui program makan bergizi gratis,” tambahnya.
Interupsi Intelektual dan Kritik Tajam
Sisi kritis tidak luput dari jalannya seminar. Pengamat politik Rocky Gerung melontarkan pernyataan provokatif mengenai pemahaman kabinet terhadap visi Presiden.
“Kebijakan memang harus selalu diinterupsi agar ia tidak menjadi monolitik. Kalau 70 persen anggota kabinet tidak mengerti Prabowonomics, itu masalah rekrutmen,” selorohnya yang disambut riuh hadirin.
Suara dari akar rumput mahasiswa juga mewarnai forum. Presiden Mahasiswa ITB, Farel Faiz Firmansyah, memberikan catatan kritis mengenai isu lingkungan dan represivitas.
“Setiap kali ada bencana kita selalu menyalahkan alam. Tapi siapa yang memberi izin tambang di daerah kritis?” gugatnya.
Menanggapi berbagai kritik tersebut, Dasco menegaskan ketegasan pemerintah dalam membenahi persoalan struktural, termasuk izin pertambangan.
“Kalau ada IUP tapi tak memberi keuntungan pada negara, pemerintah cabut,” pungkasnya.
Acara yang dihadiri tokoh-tokoh seperti Menteri Pendidikan Tinggi Brian Yuliarto, Menteri Tenaga Kerja Yassierli, hingga Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad ini berakhir saat azan magrib berkumandang dari Masjid Salman.
Meski diskusi usai, perdebatan mengenai jiwa keadilan sosial dalam “Menggugat Republik” tampaknya akan terus bergulir di ruang publik.
