“Kolam ini dilengkapi sistem sirkulasi dan aerasi sehingga ikan tetap mendapat oksigen yang cukup. Apabila diperlukan, budidaya tidak hanya terbatas pada lele tetapi juga dapat dialihkan ke jenis ikan lain seperti nila atau ikan mas. Harapannya dalam beberapa bulan ke depan hasil panen lele dapat mulai memberikan kontribusi bagi perekonomian masyarakat,” ungkap Andes.
Hilirisasi Produk: Alale dan Nale
Guna meningkatkan nilai tambah, mahasiswa juga memberikan pendampingan pengolahan pascapanen kepada kelompok ibu-ibu di desa tersebut.
Produk turunan yang dikembangkan meliputi keripik lele (Alale) dan nugget lele (Nale).
Siti, salah satu mahasiswa yang terlibat, memaparkan proses produksi yang kini mulai disosialisasikan kepada warga.
“Untuk keripik lele yang kami beri nama Alale. Ikan direbus terlebih dahulu, dipisahkan bagian kulit dan dagingnya, lalu diolah dengan tepung tapioka dan bumbu sebelum dijemur beberapa hari. Sementara nugget lele, atau Nale, dibuat dengan tambahan tepung terigu dan sayuran. Produk ini sudah kami sosialisasikan kepada masyarakat agar nantinya bisa diproduksi secara mandiri,” jelas Siti.
Harapan Warga Desa
Kehadiran program ini memberikan titik terang bagi warga desa yang sempat mengalami kelumpuhan ekonomi. Ketua Muda-Mudi setempat, Harman Panggabean, menyambut positif langkah UM Tapsel dalam mendampingi warga bangkit kembali.
“Ekonomi kami sempat lumpuh karena sawah dan kebun rusak, bahkan ikan di sini sempat tidak ada lagi. Dengan adanya kolam terpal dan pendampingan dari mahasiswa, kami kembali belajar beternak ikan sekaligus mengolah hasilnya. Mudah-mudahan ini bisa terus kami kembangkan agar pendapatan masyarakat meningkat,” tuturnya.
Melalui program ini, UM Tapsel berharap teknologi sederhana yang diaplikasikan secara tepat guna dapat mendorong lahirnya UMKM baru berbasis potensi lokal desa di wilayah terdampak bencana.











