ROA Danantara: Klaim 300 Persen, Realitas Hanya 2 Persen

Foto ilustrasi/scsht net.

PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto bahwa Return on Asset (ROA) Danantara meningkat lebih dari 300 persen terdengar sangat impresif. Angka tersebut dengan cepat menciptakan kesan bahwa lembaga pengelola investasi negara itu berhasil mencetak lonjakan kinerja luar biasa dalam waktu singkat.

Namun ketika angka tersebut dibaca lebih cermat dan ditempatkan dalam konteks skala aset yang dikelola, gambaran yang muncul justru jauh dari mengesankan.

Masalah pertama terletak pada makna “kenaikan 300 persen”. Kenaikan sebesar itu tidak berarti ROA mencapai 300 persen, melainkan bahwa ROA meningkat tiga kali lipat dari angka sebelumnya.

Dengan kata lain, jika ROA sebelumnya berada di kisaran 0,5 persen, maka setelah naik 300 persen nilainya menjadi sekitar 2 persen.

Secara matematis kenaikan tersebut memang spektakuler, tetapi secara ekonomi masih berada pada level yang relatif rendah.

Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat skala aset yang dikelola Danantara. Pemerintah beberapa kali menyebut bahwa lembaga ini pada akhirnya akan mengelola aset sekitar US$1 triliun.

Dengan menggunakan kurs rata-rata rupiah sepanjang 2025 sebesar Rp16.475 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp16.475 triliun.

Jika laba bersih Danantara mencapai sekitar Rp332 triliun, maka perhitungan sederhana menunjukkan bahwa ROA riil lembaga ini berada di kisaran 2 persen.

Kenaikan besar secara persentase memang bisa terjadi karena basis awalnya sangat kecil, sementara secara absolut kinerjanya masih jauh dari target.

Namun di sinilah letak persoalan komunikasi publiknya. Angka kenaikan yang sangat besar cenderung menimbulkan persepsi keberhasilan yang jauh lebih besar daripada realitasnya.

Dalam dunia investasi, ROA sekitar 2 persen sebenarnya masih berada pada tahap awal. Banyak sovereign wealth fund (SWF) besar di dunia mencatat return jangka panjang yang lebih tinggi.

Exit mobile version