“Lebih dari 90 persen bahkan hampir 99 persen hasil penelitian di dunia akademik tidak berhasil masuk ke pasar komersial. Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah dan industri menjadi sangat penting agar inovasi bisa benar-benar dimanfaatkan,” jelas Brian.
Sebagai tindak lanjut, Kemendiktisaintek akan mengonsolidasikan perguruan tinggi untuk fokus pada riset komoditas strategis yang menunjang kemandirian pangan.
Peta Jalan Hilirisasi dan Paten Pangan
Kepala BRIN Arif Satria menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan peta jalan (roadmap) riset pangan nasional untuk menghindari tumpang tindih penelitian.
Saat ini, BRIN telah mengantongi 188 paten di bidang pangan yang siap dihilirisasi ke sektor industri.
“Kami ingin BRIN goes to industry ke stakeholder termasuk Kementerian Pertanian agar produk bisa dimanfaatkan di lapangan dan membawa impact. Dari riset dan berbagai inovasi, hasilnya bisa dirasakan masyarakat dan industri. Oleh karena itu, BRIN siap mendukung percepatan hilirisasi inovasi di sektor pangan,” tandas Arif.
Ruang Lingkup Kerja Sama
Kesepakatan yang melibatkan sedikitnya 18 perguruan tinggi ini mencakup sinkronisasi riset pada berbagai komoditas unggulan seperti padi, jagung, sawit, hingga alat mesin pertanian (alsintan) dan pupuk.
Selain pengembangan teknologi, sinergi ini juga menyasar penguatan pertanian modern, pemanfaatan bersama sarana prasarana riset, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) untuk meningkatkan daya saing komoditas pertanian Indonesia di pasar global.
