Tantangan Astronomis: Peneliti Bosscha Sebut Posisi Hilal 1 Syawal 1447 H Sangat Rendah dan Dekat Matahari

/Dok. Kompas.com

Faktor Teknis dan Kondisi Langit

Yatni menekankan bahwa keberhasilan rukyat kali ini tidak hanya bergantung pada perhitungan matematis, tetapi sangat dipengaruhi oleh faktor alam dan kemahiran pengamat.

“Kondisi ini menunjukkan Bulan berada sangat dekat dengan Matahari di langit barat dan berada pada ketinggian rendah. Keberhasilan pengamatan sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, transparansi langit, serta pengalaman dan metode pengamatan yang digunakan,” jelasnya.

Pemantauan Strategis di Lembang dan Aceh

Guna mendapatkan data yang akurat, tim Observatorium Bosscha mengerahkan teleskop canggih dan perangkat pencitraan digital di Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Selain itu, kolaborasi dilakukan dengan Kementerian Agama untuk melakukan observasi khusus di Lhok Nga, Aceh.

Aceh dipilih sebagai titik strategis karena secara geografis, posisi Bulan di wilayah paling barat Indonesia ini merupakan yang paling mendekati ambang batas kriteria visibilitas hilal (MABIMS) yang saat ini digunakan pemerintah.

“Lokasi Aceh dinilai strategis untuk menguji kemungkinan keterlihatan hilal secara langsung. Hasil perhitungan dan pengamatan dari Observatorium Bosscha akan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam penentuan resmi tersebut,” tambah Yatni.

Meskipun data astronomi menunjukkan tantangan berat, keputusan final mengenai jatuhnya Idulfitri 1447 H tetap berada di tangan pemerintah melalui Sidang Isbat yang akan digelar Kementerian Agama pada Kamis malam, 19 Maret 2026.