“Bagus ada shelter, jadi sudah siap kalau ada bencana. Kesiapan ini menjadi hal yang patut mendapatkan apresiasi,” pujinya.
Suharyanto juga menegaskan bahwa kehadirannya merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan pelayanan maksimal bagi seluruh warga terdampak tanpa terkecuali.
“Kehadiran kami di sini bukan yang pertama, awal banjir kami sudah menempatkan Direktur untuk menangani wilayah Pasuruan. Semua warga negara dari Sabang sampai Merauke yang terkena bencana mempunyai hak yang sama untuk ditangani secara maksimal oleh pemerintah,” tegasnya.
Antisipasi Transisi ke Musim Kemarau
Usai meninjau banjir, rangkaian kegiatan berlanjut ke Gedung Negara Grahadi, Surabaya, untuk Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Hidrometeorologi.
Meski saat ini air masih menggenang, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengingatkan jajarannya untuk segera bersiap menghadapi ancaman kekeringan.
“Hari ini kita masih melihat banjir di beberapa titik, saat yang sama pun kita harus bersiap, informasi dari BMKG bulan April ini telah mulai kekeringan. Nanti akan terus meningkat prediksi puncaknya bulan Agustus,” ujar Khofifah.
Senada dengan Gubernur, Kepala BNPB menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mitigasi bencana musim kemarau, termasuk rencana Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan pengerahan helikopter waterbombing.
“Kami sudah rapat dengan Gubernur Jawa Timur ini rapatnya adalah menghadapi bencana hidrometeorologi kering, kebakaran dan kemarau panjang. Kenapa sudah dibicarakan saat ini, karena prediksi BMKG tidak lama lagi memasuki musim kemarau,” jelas Suharyanto.
Ia menutup paparan dengan menegaskan bahwa penguatan satgas darat dan penyediaan sumber air cadangan adalah kunci.
“Kita sudah sepakat bahwa untuk mengatasi kekeringan tidak bisa diatasi salah satu institusi, harus berkolaborasi dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten kota sampai pemerintah pusat,” katanya.











