Fenomena ini kontras dengan situasi akhir tahun 2023, di mana saat itu harga justru turun berkat penguatan rupiah dan melandainya Contract Price Aramco (CPA). Namun, kondisi ekonomi hari ini menuntut penyesuaian yang berbeda demi menjaga stabilitas operasional penyediaan energi nasional.
Mengapa harga gas harus naik setinggi ini? Jawabannya terletak pada tensi panas di panggung dunia. Konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengganggu jalur distribusi energi vital. Dampaknya, harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada Maret 2026 melonjak hingga US$ 102,26 per barel.
Gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi 20% pasokan minyak dunia, serta serangan pada fasilitas energi di Timur Tengah menjadi faktor pemicu yang tak terhindarkan.
Meski membebani pengeluaran rumah tangga kelas menengah dan pelaku usaha kecil, langkah ini merupakan upaya realistis untuk menyelaraskan harga domestik dengan gejolak pasar internasional yang kian tidak menentu.[dit]











