211 RW di DKI Jakarta Tercatat Masih Kumuh, Gubernur Pramono: Turun Drastis Dibanding 2017

Ia juga menilai, penurunan lebih dari separuh jumlah RW kumuh patut disyukuri di tengah kondisi lapangan yang semakin kompleks, termasuk pertambahan penduduk dan tekanan terhadap ruang kota.

“Dengan kondisi lapangan yang semakin kompleks dan jumlah penduduk yang terus bertambah, penurunan lebih dari 52 persen ini patut disyukuri,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa pendataan RW kumuh dilakukan melalui kombinasi survei lapangan dan pemanfaatan teknologi citra satelit berbasis big data. Pendekatan ini digunakan agar hasil pendataan lebih akurat dan menggambarkan kondisi riil di lapangan.

“Pendataan ini tidak hanya dilakukan di lapangan, tetapi juga dikalibrasi menggunakan citra satelit. Dengan demikian, hasilnya menjadi lebih akurat karena memanfaatkan perkembangan teknologi terkini,” jelas Amalia.

Berdasarkan pendataan tahun 2025 yang difinalisasi pada 2026, dari total 2.749 RW di DKI Jakarta, sebanyak 211 RW teridentifikasi sebagai kawasan kumuh.

Penentuan kawasan kumuh tidak hanya dilihat dari kondisi bangunan, tetapi juga mencakup 11 indikator, antara lain kepadatan penduduk, kepadatan dan kualitas bangunan, ventilasi dan pencahayaan, sanitasi, pengelolaan sampah, kondisi saluran air, jalan lingkungan, penerangan jalan umum, serta tata letak bangunan.

Ke depan, BPS bersama Pemprov DKI Jakarta akan melanjutkan kerja sama dengan memperdalam analisis terhadap 1.904 RW melalui overlay data citra satelit untuk memastikan kondisi riil di lapangan. Kerja sama juga akan diperluas pada pendataan ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta.

Selain itu, BPS telah menyiapkan dashboard data yang dapat dimanfaatkan Pemprov DKI Jakarta untuk memantau kondisi sosial ekonomi secara lebih komprehensif.

Dengan dukungan data tersebut, Pemprov DKI Jakarta optimistis penanganan kawasan kumuh dapat dilakukan secara lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan. (sah)

Exit mobile version