Rupiah Tembus Rp17.400, Gubernur BI Sebut Kurs Masih “Undervalued” dan Berpotensi Menguat

/DOk. BPMI Setpres

“Ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat,” sambungnya.

Penyebab Tekanan Jangka Pendek: Minyak hingga Musim Haji

Meski fundamental kuat, Perry mengakui adanya badai tekanan jangka pendek yang berasal dari faktor eksternal maupun siklus tahunan di dalam negeri.

Dari sisi global, kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dan harga komoditas menjadi pemicu utama penguatan dolar secara masif.

“Faktor globalnya apa yang menyebabkan tekanan nilai tukar dalam jangka pendek ini? Adalah satu, harga minyak yang tinggi. Dua, suku bunga Amerika yang juga meningkat tinggi. Yield US Treasury 10 tahun sekarang adalah 4,47 persen. Demikian juga dolar yang menguat,” jelas Perry.

Selain faktor global, tekanan terhadap ketersediaan devisa juga dipengaruhi oleh faktor musiman, antara lain:

  • Kebutuhan devisa untuk repatriasi dividen.

  • Pembayaran utang luar negeri.

  • Meningkatnya permintaan dolar untuk kebutuhan jemaah haji.

Komitmen Jaga Stabilitas

Meskipun rupiah melampaui angka psikologis Rp17.000, Bank Indonesia memastikan akan terus berada di pasar untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi melalui intervensi yang diperlukan.

Perry meyakini bahwa setelah tekanan musiman mereda dan kondisi global lebih stabil, rupiah akan kembali bergerak menuju nilai wajarnya selaras dengan fundamental ekonomi Indonesia yang tangguh.

Exit mobile version