Tahap kedua yang memicu kontroversi adalah keterlibatan kampus dalam ekosistem Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan menjadi operator kebijakan dan penerima manfaat ekonomi dari proyek strategis nasional ini, independensi akademik berada di bawah tekanan besar.
Sulit bagi institusi untuk tetap objektif ketika mereka sendiri terlibat dalam pengelolaan dan menikmati fasilitas dari program yang seharusnya mereka awasi secara netral.
Selain itu, pola ketiga menyasar gerakan mahasiswa melalui undangan audiensi di ruang-ruang birokrasi yang eksklusif. “Kekuatan moral mahasiswa jauh lebih mudah dilemahkan melalui rasa dilibatkan dibanding melalui represi,” tulis Hamdi Putra dalam catatan kritisnya pada 7 Mei 2026.
Pergeseran dari tekanan publik menjadi kanal konsultasi ini dikhawatirkan meruntuhkan batas psikologis aktivis untuk melakukan kritik keras, yang pada akhirnya dapat mengancam kesehatan demokrasi nasional.[dit]
