“Itu namanya bukan business as usual, itu all out,” tegas Perry.
Selain membanjiri pasar dengan dolar, BI dan KSSK juga memaksimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai tameng penahan modal asing.
Sepanjang tahun ini, SRBI sukses mencatat aliran dana masuk (inflow) hingga Rp78,1 triliun. Angka ini menjadi penawar di tengah pendarahan pasar saham yang mencatat outflow Rp38,6 triliun dan SBN sebesar Rp11,7 triliun.
Guna memperdalam penetrasi pasar, BI juga mengerahkan bank-bank Himbara dan swasta domestik untuk aktif bertransaksi NDF di pasar offshore.
Meski nilai tukar Rupiah sempat terperosok ke level terendahnya di atas Rp17.400 per Dolar AS pada pekan ini sebelum menguat tipis ke kisaran Rp17.333, Perry dan seluruh anggota KSSK sepakat bahwa kondisi Rupiah saat ini berstatus undervalued alias tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.[dit]
