Walaupun mengenakan pakaian adat merupakan tradisi kebhinekaan yang lumrah bagi pejabat saat hari besar, narasi ini telanjur menyulut emosi massa.
Unggahan yang meraup ribuan impresi itu seketika dibanjiri reaksi tajam. Menariknya, sasaran kekecewaan warganet meluas hingga ke Pemerintah Provinsi Aceh.
Akun bernama Cekmad Amnisa secara terbuka mempertanyakan alasan pemerintah setempat yang seakan bungkam melihat provokasi tersebut.
Kritik senada dilontarkan oleh Zuddin Jalil yang mengeluhkan diamnya para pemimpin daerah menggunakan bahasa lokal. Sindiran paling menohok datang dari akun Wahyu Wahyu.
Dengan campuran bahasa yang bernada keras, ia menyayangkan hilangnya keberanian pemimpin Aceh masa kini yang dianggap hanya mencari aman kepada pusat, jauh berbeda dari nyali para pendahulu.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari Kementerian Agama terkait konteks acara, maupun tanggapan dari Pemerintah Provinsi Aceh.[dit]
