Megahnya Proliga dan AVC 2026 di Kalbar: Mengupas Tuntas Isu Anggaran Terkuras hingga Dugaan Aliran Dana Ilegal

Megahnya Proliga dan AVC 2026 di Kalbar: Mengupas Tuntas Isu Anggaran Terkuras hingga Dugaan Aliran Dana Ilegal/(Dok.FaktaKalbar.id)

Mulai dari penertiban aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), pengepul emas ilegal, hingga mafia solar. Stevanus Febya Babaro, Ketua Lembaga Investigasi Badan Advokasi Penyelamat Aset Negara (LI BAPAN) Kalimantan Barat, mencium adanya korelasi antara intensitas razia besar-besaran tersebut dengan kebutuhan dana menjelang AVC 2026.

Bahkan, LI BAPAN secara proaktif telah mendesak Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk segera turun tangan melakukan audit investigatif terhadap aliran dana Proliga dari edisi 2024 hingga 2026. Seruan ini memantik perdebatan panas di media sosial.

Sejumlah warganet melontarkan kritik pedas, menuding bahwa ajang ini ibarat mencari kesalahan pekerja lapangan demi dana, sementara cabang olahraga lain di Kalbar justru menjerit karena defisit anggaran dari KONI.

Kendati demikian, tak urung ada pula netizen yang pasang badan, berargumen bahwa penunjukan Kalbar sebagai tuan rumah adalah momentum emas untuk memajukan sektor olahraga di wilayah tersebut.

Tanda Tanya Wakil Indonesia: Sang Juara Proliga yang Tersingkirkan

Polemik di Bumi Khatulistiwa rupanya merembet jauh hingga ke ranah teknis dan keadilan kompetisi tingkat nasional.

Publik pecinta voli kembali dihebohkan oleh komposisi tim yang akan membawa bendera Merah Putih di ajang AVC Champions League 2026. Merujuk pada pemberitaan yang diturunkan oleh Tribunnews pada 17 Maret 2026, jagat maya secara kritis mempertanyakan absennya nama Jakarta LavAni Livin Transmedia dari daftar perwakilan Indonesia.

Padahal, di atas kertas, klub tersebut merupakan pemegang tahta juara Proliga 2026 yang dinilai paling berhak tampil di panggung level Asia.

Rumor yang telanjur liar ini akhirnya memaksa pihak manajemen untuk turun tangan. Ossy Dermawan, selaku Manajer Jakarta LavAni Livin Transmedia, memberikan klarifikasi yang justru semakin mempertebal kabut misteri.

Melalui cuitannya di platform media sosial X pada Selasa, 17 Maret 2026, Ossy menegaskan bahwa timnya sama sekali belum pernah dihubungi atau mendapatkan tawaran resmi dari Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) untuk berlaga di turnamen AVC tahun ini.

Pernyataan tegas tersebut praktis memvalidasi kecurigaan publik bahwa ada proses penunjukan yang tidak transparan di balik pemilihan tim perwakilan negara.

Pada akhirnya, rentetan kontroversi ini menjadi preseden penting bagi tata kelola olahraga nasional dan daerah. Kalimantan Barat memang sukses mencatatkan namanya sebagai episentrum bola voli Indonesia dengan intensitas penyelenggaraan event yang tinggi.

Namun, selama asas transparansi pendanaan belum ditegakkan, kemegahan AVC dan Proliga di tanah Borneo akan terus dibayangi oleh stigma negatif.

Masyarakat berhak mendapatkan kejelasan yang komprehensif, agar pesta olahraga bergengsi ini murni menjadi dedikasi untuk prestasi, bukan sekadar etalase yang menyisakan tanda tanya.[dit]

Exit mobile version