Meski tampil garang di publik, inflasi mencekik dan gelombang pengangguran memaksa elit Teheran bermanuver di belakang layar. Sumber Reuters mengungkap bahwa Iran sebenarnya telah menyodorkan skema damai pragmatis.
Teheran menawarkan pembukaan Selat Hormuz di bawah pengawasan mereka sebagai barter atas pencabutan blokade ekonomi AS.
Dalam isu nuklir, Iran bahkan bersedia mengencerkan 440 kilogram uranium tingkat tingginya atau mengekspornya ke Rusia.
Syaratnya, AS harus mencairkan aset beku senilai US$30 miliar secara penuh. Sayangnya, Washington menolak mentah-mentah proposal tersebut.
AS bersikeras Selat Hormuz harus dibuka tanpa syarat dan hanya mau mencairkan seperempat aset Iran secara bertahap.
Akibatnya, perang ketahanan ini diprediksi negosiator veteran Aaron David Miller akan berujung pada pendudukan militer yang panjang dan menguras kas Amerika.[dit]
