“Kita ingin proyek ini segera berfungsi, menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya bagi warga lokal, meningkatkan kesejahteraan, serta memberikan multiplier effect yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” tambahnya tegas.
Selama ini, ketergantungan terhadap impor garam masih menjadi tantangan besar bagi ketahanan pangan dan industri nasional. Melalui tata kelola K-SIGN yang modern, terintegrasi, dan memiliki daya saing tinggi, pasokan garam dalam negeri diharapkan menjadi jauh lebih kokoh, stabil, dan berkelanjutan.
Pemerintah juga menginstruksikan manajemen pengelola kawasan agar memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal dari wilayah Rote Ndao dan sekitarnya.
Dengan dimulainya produksi dari beranda selatan Indonesia ini, langkah nyata menuju kedaulatan ekonomi dan kemandirian garam nasional kini dinilai semakin dekat.
Baca Juga: Survei NRI: Kepuasan Publik terhadap Prabowo-Gibran Tembus 80 Persen










