“Ini menjadi contoh yang sangat baik bahwa program MBG dijalankan secara demokratis. Yang tidak ingin menerima tidak dipaksakan, sedangkan yang menerima alhamdulillah tetap menikmati program ini dengan baik. Bahkan tadi saya juga makan bersama para siswa,” jelas Sony.
Sukses Integrasikan Gizi dan Edukasi Lingkungan
Tidak hanya sekadar urusan pemenuhan gizi, Sony mengaku sangat terkesan dengan komitmen SMAN 28 Jakarta yang berhasil mengintegrasikan program nasional ini dengan edukasi lingkungan hidup berkelanjutan.
Pihak sekolah secara aktif mengajarkan para siswa untuk mengolah sisa sampah makanan agar tidak menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Beberapa inovasi hijau yang sudah berjalan mandiri di sekolah tersebut di antaranya:
-
Budidaya Maggot: Memanfaatkan lalat Black Soldier Fly (BSF) untuk mengurai sampah organik sisa makanan.
-
Produksi Kompos: Mengolah sampah organik menggunakan cairan komposer.
-
Pembuatan Ekoenzim: Memanfaatkan sisa kulit buah dan sayuran menjadi cairan serbaguna.
-
Pengembangan Hidroponik: Memanfaatkan lahan sekolah untuk budidaya sayuran hijau.
“Ini luar biasa. Jadi bukan hanya menerima MBG, tetapi siswa juga diajarkan bagaimana mengelola sampah makanan dan buah-buahan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ada budidaya maggot, kompos, ekoenzim hingga hidroponik. Ini pendidikan karakter dan lingkungan yang sangat baik,” pungkas Sony mengapresiasi inovasi sekolah.
Baca Juga: Sidak Dapur MBG, Kepala KSP Dudung Ungkap Persoalan Serius
