Skandal Manipulasi Ekspor Sawit 50% Dibongkar Menkeu, Saham Raksasa CPO Wilmar dan SIMP Rontok

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudha Sadewa/net.

FAKTANASIONAL.NET – Pasar modal regional dan domestik bergejolak. Kasus dugaan manipulasi ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang dibongkar oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung memukul telak pergerakan saham sejumlah perusahaan sawit raksasa.

Perusahaan-perusahaan ini dituding melakukan praktik transfer pricing yang berpotensi memicu penghindaran pajak (tax avoidance) skala besar.

Salah satu raksasa agribisnis global yang terseret dalam pusaran kasus ini adalah Wilmar International. Menkeu Purbaya mengonfirmasi bahwa perusahaan terintegrasi yang memiliki jaringan perkebunan dan rantai pasok masif di Indonesia ini masuk dalam daftar pemeriksaan pemerintah.

Imbasnya, saham Wilmar International yang melantai di Bursa Singapura (SGX) langsung ambrol 3,98 persen ke level 3,38 dolar Singapura pada perdagangan Kamis (28/5/2026).

Baca Juga: Negara Tidak Kompromi: Kementan dan Satgas Pangan Bongkar Jaringan Kartel Pangan, Pupuk Palsu, hingga Sawit Ilegal

Modus Operandi: Pangkas Harga Setengahnya Lewat Singapura

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah sebetulnya telah mengendus dan mengantongi data dugaan manipulasi ini sejak tiga bulan lalu.

“Data itu sudah ada tiga bulan lalu,” kata Purbaya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta.

Purbaya menjelaskan secara detail terkait modus operandi yang diduga dilakukan oleh para eksportir nakal tersebut:

  • Jalur Transaksi: Perusahaan menggunakan skema transfer pricing melalui perusahaan trading (perantara) yang berbasis di Singapura.

  • Manipulasi Nilai: Harga ekspor CPO dari Indonesia dicatat jauh lebih rendah dari nilai pasar sebenarnya saat masuk ke Singapura.

  • Keuntungan Gelap: Dari Singapura, komoditas tersebut dijual kembali ke pasar Amerika Serikat (AS). Selisih harga atau margin yang disembunyikan dari pencatatan pajak Indonesia diperkirakan mencapai 50 persen.

“Mungkin lebih ke transfer pricing ya, di sini benar, di sananya salah. Jadi data ekspor dia lebih rendah daripada yang seharusnya, kira-kira 50 persen di bawah,” tegas Purbaya.

Saat dikonfirmasi mengenai daftar perusahaan yang diperiksa, Purbaya membenarkan keterlibatan dua grup besar.