FAKTANASIONAL.NET – Kendati ajang kontestasi Pemilihan Umum baru akan dihelat sekitar tiga tahun mendatang, pemetaan manuver elite politik terus menuai sorotan tajam.
Berdasarkan analisis terkini dari Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, langkah strategis mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memutuskan untuk membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ketimbang melahirkan partai politik baru, dinilai sebagai sebuah kalkulasi yang keliru.
Dikutip dari RMOL, pemaparan kritis Erizal pada Selasa (2/6/2026), terdapat serangkaian indikator fundamental yang mendasari simpulan tersebut.
Secara praktis, merombak citra partai yang telah memiliki preseden dan riwayat di mata publik jauh lebih rumit daripada membangun narasi awal sebuah partai baru.
Upaya asimilasi ini bahkan terbukti sangat rentan memantik konflik internal antara barisan kader perintis dan figur pendatang baru.
Meski PSI kini banyak dipenuhi oleh wajah-wajah segar, ironisnya nilai “kebaruan” tersebut gagal ditangkap secara utuh oleh masyarakat luas.
Dampak domino dari stagnasi inovasi inilah yang membuat angka elektabilitas partai berlambang mawar tersebut cenderung jalan di tempat.
