Hasto mengatakan, Presiden Ramos Horta memahami PDIP sering dikaitkan dengan istilah Marhaen. Maka diapun menyinggung hal yang hampir serupa. Di Timor Leste disebut Maubere.
Sebagaimana diketahui, Marhaen adalah nama seorang petani kecil di Bandung yang ditemui Soekarno pada tahun 1920-an. Pertemuan ini menginspirasi Soekarno menciptakan istilah Marhaenisme sebagai simbol perjuangan kaum miskin, kaum tertindas, dan rakyat kecil.
“Presiden Ramos Horta menyampaikan bahwa ada kesamaan antara Marhaen dan Maubere. Maubere adalah istilah dalam bahasa Tetum yang merujuk pada rakyat jelata, kaum petani, atau penduduk asli Timor-Leste,” sebut Hasto.
Presiden Ramos Horta juga menekankan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan sumber daya manusia. Presiden menyoal bahwa pendidikan saja tidak memadai tanpa pengalaman dan keahlian. Untuk itu diperlukan reformasi pendidikan nasional.
Presiden menyampaikan bahwa Timor Leste mempunyai Human Capital Development Fund, suatu mekanisme pemerintah untuk pelatihan dan beasiswa guna membangun keterampilan dan kapasitas profesional bangsa, yang didirikan pada tahun 2011.
Usai pertemuan, Hasto menyerahkan cinderamata berupa kain batik ke Presiden Ramos Horta.
Hasto didampingi oleh Ketua DPP PDIP Bidang Organisasi Andreas H. Pareira, Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan PDIP, Andi Widjajanto serta Direktur Luar Negeri PDIP, Hanjaya Setiawan.











