Aristoteles: Keadilan

Aristoteles: Keadilan

Perbuatan baik dan adil lahir dari kejernihan Nalar. Jika akal sehat memimpin, perbuatan akan menjadi bajik.

Sebaliknya, ketidakadilan terjadi ketika akal manusia buntu atau dikalahkan oleh hasrat dan egonya (aspek “binatang” dalam diri manusia). Keputusan yang diambil tanpa kejernihan akal pasti akan melenceng dari prinsip keadilan.

4. Virtue Ethics: Keadilan adalah Habit, Bukan Bakat

Dalam pandangan Aristoteles (Virtue Ethics atau Etika Keutamaan), keadilan masuk ke dalam kategori kebajikan praktis (moral), bukan sekadar kebajikan intelektual. Ini membawa konsekuensi filosofis yang sangat penting:

Bukan Bawaan Lahir: Tidak ada orang yang dilahirkan dengan “bakat” adil atau “bakat” curang. Keadilan bukanlah sifat bawaan genetik.

Pembiasaan (Habit): Seseorang menjadi adil karena ia membiasakan diri untuk bersikap adil. Sama seperti keberanian yang dilatih dengan menghadapi rasa takut, keadilan dilatih dengan terus-menerus memilih tindakan yang benar, meskipun awalnya terasa berat atau menuntut pengorbanan (tirakat).

Jika seseorang terus-menerus berbohong atau curang, tindakan itu akan menjadi habit (kebiasaan) yang membentuk karakternya menjadi tidak adil.

Merespons narasi di awal transkrip, Aristoteles akan sangat setuju bahwa keadilan dan kebajikan menuntut pengorbanan—sebuah tirakat. Keadilan (baik itu membagi hak secara distributif, kompensatif, maupun retributif) mengharuskan kita menekan ego hewani demi tujuan yang lebih rasional.

Pada akhirnya, seseorang yang hidupnya adil adalah mereka yang pikirannya jernih, perilakunya lurus, dan batinnya tenang. Harmoni antara pikiran, perbuatan, dan kenyamanan jiwa inilah manifestasi sesungguhnya dari filsafat Eudaimonia Aristoteles.[dit]

Exit mobile version