JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Sikap DPR RI yang memuji-muji kinerja PT Telkom membuat miris sekaligus membongkar betapa dangkalnya para legislator dalam pengawasan BUMN.
Hal itu terungkap dari analisa mendalam Ir. R Haidar Alwi yang membongkar laporan keuangan PT Telkom. Ditemukan fakta bahwa kinerja keuangan perusahaan plat merah itu sebenarnya meleset dari target yang ditetapkan. Tapi bagi-bagi dividen sepertinya menutupi kegagalan yang sebenarnya terjadi.
“Apresiasi terhadap dividen PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk sebesar sekitar Rp21,9 triliun tidak boleh membuat Komisi VI DPR RI lupa menjalankan fungsi pengawasan,” kata Haidar Alwi dalam tulisannya, Kamis (25/6/2026).
Haidar menegaskan, dividen besar bukan otomatis bukti kinerja hebat, apalagi ketika Telkom gagal mencapai target pertumbuhan pendapatan, dan realisasi belanja modalnya berada jauh di bawah rencana yang ditetapkan manajemen sendiri.
Yang harus diuji bukan sekadar besarnya uang yang dibagikan kepada pemegang saham, melainkan arah kebijakan di baliknya.
Telkom membagikan dividen sekitar Rp21,9 triliun untuk tahun buku 2025. Dari jumlah itu, sekitar Rp17,8 triliun berasal dari laba tahun 2025, sementara sekitar Rp4,2 triliun diambil dari laba ditahan tahun-tahun sebelumnya.
“Artinya, pembagian dividen kali ini tidak seluruhnya ditopang laba tahun berjalan,” ungkap Haidar.
Di saat yang sama, Telkom merealisasikan belanja modal sebesar Rp24,577 triliun atau hanya 16,7 persen dari total pendapatan. Padahal, pada awal 2025 Telkom merencanakan belanja modal sekitar 25 hingga 30 persen dari pendapatan untuk membangun infrastruktur bisnis digital.
Dengan kata lain, nilai dividen yang dibagikan hampir sebesar seluruh belanja modal yang direalisasikan, sementara investasi yang dijanjikan sendiri oleh manajemen tidak terpenuhi.
Masalahnya bukan apakah Telkom memiliki kas untuk membayar dividen. Telkom masih membukukan arus kas operasi yang kuat dan posisi kas yang memadai. Masalahnya, mengapa ketika target investasi digital tidak tercapai, perusahaan justru begitu agresif mengalirkan nilai kepada pemegang saham?
Haidar mengingatkan, Telkom adalah pemilik salah satu jaringan telekomunikasi paling strategis di Indonesia. Ia memegang infrastruktur fiber, jaringan seluler, pusat data, kabel laut, menara, satelit, dan berbagai fondasi digital yang menentukan daya saing Indonesia dalam bertahun-tahun ke depan.
“Karena itu, setiap rupiah yang tidak jadi dibelanjakan untuk memperkuat jaringan harus dijelaskan secara terbuka. Apakah benar berasal dari efisiensi, atau karena ada proyek yang ditunda, dikurangi, dibatalkan, maupun dialihkan,” tegas Haidar.
