Eropa Terpanggang: Krisis Iklim Buat Gelombang Panas Makin Mencekam

Eropa Terpanggang: Krisis Iklim Buat Gelombang Panas Makin Mencekam/(Foto: Zoom Earth)

FAKTANASIONAL.NET – Eropa kini berada dalam cengkeraman fenomena cuaca ekstrem yang memecahkan rekor sejarah.

Berdasarkan laporan yang dilansir dari The Guardian, para ilmuwan dari konsorsium World Weather Attribution (WWA) menyatakan bahwa gelombang panas yang melanda benua biru saat ini merupakan yang paling parah dan meluas.

Krisis iklim yang dipicu oleh pembakaran bahan bakar fosil dituding menjadi dalang utama di balik bencana ini.

Hampir separuh dari 850 kota besar di Eropa kini berada pada tingkat stres panas tertinggi.

Theodore Keeping, peneliti dari Imperial College London yang tergabung dalam tim WWA, mengungkapkan bahwa indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) menunjukkan kelembapan udara yang ekstrem menghambat kemampuan alami tubuh manusia untuk mendinginkan diri.

Dampaknya sangat fatal. Inggris bahkan mencatat suhu tertinggi bulan Juni mencapai 36,7 derajat Celsius di Somerset pada Kamis (25/6).

Jika dibandingkan dengan gelombang panas tahun 2003, suhu saat ini tercatat 2 derajat lebih panas.

Para ahli menegaskan bahwa fenomena ini mustahil terjadi tanpa adanya perubahan iklim, dan suhu malam yang menyengat kini berisiko 100 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan dua dekade lalu.

Menanggapi krisis yang semakin tidak terkendali ini, Kepala Iklim PBB Simon Stiel menegaskan bahwa ketergantungan dunia pada batu bara, minyak, dan gas bumi harus segera dihentikan. Solusi konkretnya adalah mempercepat transisi ke energi bersih yang kini jauh lebih terjangkau.

Sementara itu, Carolina Pereira Marghinda dari Red Cross Red Crescent Climate Centre memperingatkan bahwa sistem peringatan dini yang dibangun pasca-2003 kini tidak lagi memadai untuk membendung dampak panas ekstrem yang melumpuhkan sektor kesehatan hingga transportasi.

Investasi besar dalam pembangunan infrastruktur kota yang tahan panas menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa langkah nyata, musim panas tahun ini yang terasa sangat menyiksa dikhawatirkan akan dianggap sebagai cuaca “sejuk” oleh generasi mendatang.[dit]

Exit mobile version