Opini  

Skandal Listrik yang Tak Pernah Padam

Kalau Anda jadi pengusaha, pilih mana? Menjual murah karena diwajibkan atau menjual mahal ke luar negeri sambil menghitung laba pakai kalkulator yang sampai berasap?

Inilah konflik yang dari tahun ke tahun seperti kaset rusak. Pemerintah marah. Pengusaha tambang mengeluh. PLN panik.

Rakyat? Ya tetap beli lilin.

Tahun 2022, pemerintah sempat menerapkan larangan ekspor batubara total demi menyelamatkan pasokan PLN. Empat tahun berlalu.

Masuk 2026, resepnya ternyata masih sama. Tekanan regulasi. Alokasi khusus. Ancaman pembatasan ekspor.

Pemangkasan kuota produksi. Seolah-olah negara sedang bermain permainan yang sama dengan level yang berbeda.

Lalu muncul kebanggaan baru. Sistem interkoneksi Kalimantan.

Katanya jaringan 150 kV yang menghubungkan Kalsel, Kalteng, Kaltim hingga Kalbar akan membuat listrik semakin andal.

Kedengarannya seperti Avengers versi kelistrikan.

Sayangnya… begitu satu unit PLTGU Bangkanai mengalami gangguan, seluruh sistem ikut oleng.

Mirip konvoi truk semuanya berhenti hanya karena truk paling depan mogok.

Kalau cadangan dayanya memang kuat, kenapa satu pembangkit batuk sedikit seluruh Kalimantan langsung pilek? Pertanyaan itu terus menggantung.

PLN tentu punya daftar penjelasan yang panjang.

Medan berat. Geografi sulit. Cuaca ekstrem. Mesin IPP bermasalah. Jaringan panjang.

Semuanya masuk akal. Tetapi ada pertanyaan yang lebih nakal.

Jangan-jangan persoalannya bukan sekadar mesin. Jangan-jangan yang rusak justru desain insentifnya.

Selama menjual ke luar negeri jauh lebih menguntungkan dari memasok kebutuhan domestik, drama ini akan terus diputar ulang.

Bukan karena batubaranya habis. Bukan karena listriknya hilang.

Melainkan karena uang selalu menemukan jalur paling terang.

Lucunya lagi, Indonesia sering dipromosikan sebagai salah satu raksasa batubara dunia.

Ironisnya, rakyat di daerah penghasil batubara justru akrab dengan suara genset.

Ini seperti tinggal di samping sungai tetapi harus membeli air galon setiap hari.

Apakah ini konspirasi? Belum tentu. Tetapi kalau setiap tahun pemainnya sama, dialognya sama, alasannya sama, dan yang gelap tetap rakyat, publik tentu berhak bertanya.

Atau jangan-jangan konspirasi terbesar bukanlah adanya aktor rahasia.

Melainkan kenyataan, semua orang sudah tahu persoalannya, tetapi lebih nyaman menjadikannya rutinitas.

Sebab di republik ini, yang paling konsisten bukan listriknya, melainkan alasan mengapa listrik padam.

Rosadi Jamani (Jurnalis Senior, Ketua Satu Pena Kalbar)

Exit mobile version